Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketua Prodi Gizi Unisa Jogja Tanggapi Implementasi Program MBG, Sebut Kalori Sudah Sesuai, Isian Menu Bisa Fleksibel

Fahmi Fahriza • Selasa, 14 Januari 2025 | 14:00 WIB

 

Makan bergizi gratis di Sleman
Makan bergizi gratis di Sleman

JOGJA - Program makan bergizi gratis (MBG) mulai diimplementasikan di wilayah Sleman dan Kulon Progo. Setiap porsi makanan sudah memiliki hitungan kalori yang pasti. Yakni 400 kalori untuk siswa TK dan SD, sedangkan 600 kalori untuk siswa SMP hingga SMK.

"Itu sudah ideal, karena dalam prosesnya badan gizi nasional (BGN) dan pemerintah juga melibatkan ahli gizi untuk penghitungannya,” sebut Ketua Prodi Gizi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta Agung Nugroho Senin (13/1/2025).

Agung pun merinci soal gizi yang dibutuhkan untuk makan pagi bagi anak usia PAUD atau TK. Besarannya adalah 25 persen dari kebutuhan harian mereka. Sementara, untuk siswa SD hingga SMA, adalah 35 persen dari kebutuhan harian.

"BGN sudah punya aturan dan hitungan bakunya, itu sudah ideal berbasis standar gizi," ungkapnya.

Soal proporsi menu yang disajikan, Agung menilai juga sudah kompleks dan ideal. Meliputi karbohidrat, protein, serat, vitamin hingga mineral. Namun, isian atau varian menu yang dihadirkan bisa sangat fleksibel.

"Misal hari ini pakai susu, besok mungkin tidak pakai, tapi protein hewaninya ditambah," ujarnya mencontohkan.

Dari informasi yang diperolehnya, Agung menuturkan bahwa susu bukanlah varian atau aspek yang wajib ada dalam menu. Susu tersebut menurutnya bisa disubtitusi dengan gizi lainnya.

Ketua Prodi Gizi Unisa Jogjakarta Agung Nugroho
Ketua Prodi Gizi Unisa Jogjakarta Agung Nugroho

Bukan tanpa sebab, Agung menilai bahwa pemilihan susu cukup riskan. Jika pemerintah memilih menggunakan susu kemasan, kandungan gula yang terdapat di susu tersebut sangat tinggi. Justru berpotensi memberi dampak yang kurang baik pada anak.

"Di samping itu kalau pakai susu kemasan akan ada sampah cukup banyak yang dihasilkan," ucapnya.

Sementara, jika menggunakan susu olahan atau produksi lokal, masalah yang mungkin terjadi adalah tidak semua wilayah di Indonesia dekat dengan produsen susu. Di samping itu, susu olahan tersebut juga perlu segera dikonsumsi untuk menjaga kandungannya.

"Masa simpannya terbatas, jadi harus segera dikonsumsi juga sebelum tercemar atau terkontaminasi," bebernya.

Menurutnya, peran ahli gizi dalam pemetaan dan penyusunan menu sangat penting. Karena hal tersebut bisa memengaruhi komposisi zat gizi satu dan lainnya. Selain itu, ahli gizi juga perlu untuk menyiapkan sebanyak mungkin varian menu.

"Misalnya harus ada 20 varian menu yang disiapkan, agar siswa juga tidak bosan dengan menunya," paparnya.

Dia pun turut menyoroti soal wadah makanan yang menggunakan bahan stainless. Dia menilai sudah cukup ideal dan tepat guna. Alih-alih menggunakan wadah makanan yang berbahan plastik, kaca, ataupun kayu.

"Kalau plastik jelas bahaya digunakan dalam waktu lama, begitupun kayu. Kalau kaca salah satu risikonya adalah rawan pecah," urainya. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#prodi gizi #kalori #Mbg #unisa #Sleman #Kulon Progo #menu #Makan Bergizi Gratis #porsi makanan #program #diimplementasikan #ahli gizi #fleksibel #Jogjakarta #Universitas Aisyiyah