JOGJA - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak merupakan sebuah virus. Persebarannya pun sangat dipengaruhi oleh kebersihan kandang hingga peternaknya.
"PMK disebabkan oleh virus Aphtovirus, yang masuk dalam keluarga Picornaviridae," ujar Dokter Hewan Klinik Quantum, Jogja, Drh. Antonia Agnes saat dikonfirmasi, Rabu (8/1).
PMK dapat menular dengan sangat cepat dan melalui berbagai cara baik secara langsung araupun tidak langsung. Virus tersebut dapat menyebar melalui udara atau aerosol yang keluar dari nafas hewan yang terinfeksi. Interaksi atau kontak fisik antar hewan juga dapat menyebarkan virus tersebut.
Baca Juga: Sempat Didemo Warga karena Dituduh Melakukan Tindak Asusila, Dukuh Koroulon Kidul Akhirnya Mengundurkan Diri
"Bahan-bahan yang terkontaminasi seperti feses, muntahan, atau daging yang terinfeksi juga bisa," tuturnya.
Bahkan menurut Drh. Antonia, virus tersebut bisa masuk pada tubuh manusia. Mekanismenya, virus tersebut bertahan di saluran pernepasan manusia selama satunhingga dua hari. Manusia juga rentan menularkan virus tersebut ke tempat lain. Selain itu, pakaian, sepatu, dan peralatan kandang yang terkontaminasi virus dapat menjadi media penyebaran.
Masa inkubasi PMK setiap hewan bervariasi. Pada sapi dan kerbau, rata-rata inkubasi berkisar 2-14 hari. Pada kambing lebih pendek lagi, takni 3-8 hari. Hewan babi, masa inkubasinya dapat kurang dari dua hari.
Baca Juga: Ekspor DIY Capai USD 51,95 Juta, tapi Yang via Bandara YIA Hanya USD 420 Ribu
"Gejalanya muncul lepuh atau vesikel di bibir, lidah, paratum, gusi, moncong atau kuku pada hewan," bebernya.
Hewan yang terjangkit PMK rata-rata menunjukkan kesakitan baik tidak mau makan ataupun lemas. Demam tinggi juga dapat terjadi hingga 42 derajat celcisu. Gejala lainnya termasuk keluarnya air liur yang berlebihan (hipersalivasi), pincang, dan sering kali terjadi keguguran pada hewan betina yang sedang hamil hingga kematian.
"Bedah bangkai atau mekropsi dapat dilakukan untuk memastikan hewan terinfeksi PMK," jelasnya.
Untuk memastikan apakah hewan benar-benar terinfeksi PMK, prosedur diagnosis dilakukan melalui nekropsi (bedah bangkai) atau pengambilan sampel lesi untuk diuji di laboratorium. Uji identifikasi virus dapat membantu menegakkan diagnosis dan memastikan adanya infeksi Aphtovirus.
Baca Juga: Tingkatan Kompetensi Mahasiswa Sebelum Lulus, UPY Fasilitasi Mahasiswa Belajar Bahasa Korea
"Biosecurity adalah langkah pertama dan paling penting untuk menghindari penyebaran penyakit ini," lanjutnya.
Para peternak juga diharapkan menjaga kebersihan kandang dan peralatannya dengan pemberian disenfektan. Jenis disenfektan yang efektif untuk virus PMK diantaranya sofium hiydroxide, sodium carbonare dan asam sitrat.
"Peternak juga bisa membuat desinfektan sendiri dengan mencampurkan Bayclean dengan air, yang dapat digunakan untuk menyemprotkan kandang, area sekitar hewan, serta peralatan yang digunakan," paparnya.
Baca Juga: Satreskrim Polres Bantul Gelar Rekonstruksi, Ari Martono Diketahui Pesta Miras sebelum Aniaya Istri
Menurutnya, pengobatan PMK pada dasarnya lebih bersifat suportif, mengingat belum ada obat spesifik yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara langsung. Namun, vaksinasi merupakan salah satu langkah penting dalam pencegahan penyebaran PMK.
"PMK dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar di sektor peternakan, terutama pada hewan yang menghasilkan susu dan daging," ujarnya. (oso)