JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja meminta masyarakat tidak sembarang dalam menangani penyakit gondongan. Sebab, penanganan yang tidak tepat justru akan memperparah penyakit.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, mengalungkan anak dengan mengkudu (bahasa Jawa: pace) dan mengoleskan blau, dipastikan itu hanya mitos. Sederhananya, bukan bentuk penanganan yang tepat untuk penyakit gondongan.
Endang menilai, pengalungan mengkudu pada anak justru dapat menyebabkan iritasi pada leher anak. Apalagi jika mengkudu yang digunakan berukuran besar dan menggunakan tali yang terbuat dari logam.
"Sehingga sangat tidak tepat mengobati gondongan dengan mengalungkan mengkudu atau mengoleskan blau," ujar Endang Senin (4/11).
Menurutnya, penanganan gondongan yang paling tepat adalah membawa penderita ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Bagi penderita pun tidak diperkenankan berangkat sekolah atau bertemu dengan orang yang sehat.
Sebab, kata Endang, gondongan merupakan jenis penyakit yang mudah menular. Baik itu melalui percikan air liur atau benda yang sudah terkontaminasi.
Data dari Dinkes Kota Jogja, hingga bulan Oktober lalu diketahui ada 169 kasus gondongan. Penyakit ini paling banyak ditemukan pada anak-anak dengan usia sekolah dasar (SD). Adapun untuk pencegahan, para orang tua diimbau memastikan anaknya telah mendapatkan vaksinasi Measles, Mumps, Rubella (MMR).
"Kami juga meminta agar pihak sekolah juga berkoordinasi dengan puskesmas setempat. Apalagi jika terjadi peningkatan kasus gondongan di lingkungan sekolah,” pesan Endang.
Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Jogja Waryono menyampaikan, masyarakat jangan khawatir terhadap penanganan gondongan. Sebab jenis penyakit ini dapat ditangani puskesmas milik pemerintah.
Menurut Waryono, sampai saat ini gondongan pun belum menjadi wabah di Kota Jogja. Meskipun demikian masyarakat diminta untuk menjaga kondisi tubuh agar tidak terpapar penyakit ini.
"Sakitnya (gondongan) memang situasional yang disebabkan virus karena perubahan cuaca,” bebernya. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo