SLEMAN - Kabupaten Sleman masih terkendala untuk menciptakan kondisi nol stunting. Hal ini disebabkan karena pola asuh yang masih belum tepat.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama menerangkan, kasus stunting di Sleman saat ini sejumlah 4,41 persen. Empat kapanewon dengan kasus tertinggi adalah Minggir 8,5 persen; Pakem 7,5 persen; Seyegan 7,08 persen; dan Turi 6,61 persen.
"Kami sudah melakukan audit kasus stunting. Penyebab utamanya adalah pola asuh," ucap Cahya.
Dia mencontohkan, orang tua kerapkali lebih menitikberatkan pada ketersediaan camilan dan jadwal pemberian makan pada anak yang tidak teratur. Cahya menerangkan, kondisi ini banyak terjadi pada orang tua yang bekerja, sementara anak dititipkan pada nenek atau saudara tanpa bekal ilmu pengasuhan yang baik.
"Stunting yang disebabkan karena kemiskinan hanya lima persen. Sementara 90 persen itu karena pola asuh," tegasnya.
Cahya juga menekankan, Dinas Kesehatan hanya mampu melakukan pengendalian kasus stunting sebesar 30 persen. Sebab, sisanya perlu kolaborasi dari berbagai pihak.
Misalnya, Dinas Pekerjaan Umum untuk memastikan rumah layak huni hingga Dinas Lingkungan Hidup untuk memastikan wilayah tinggal masyarakat tak tercemar sampah.
Sementara itu, Pjs Bupati Sleman Kusno Wibowo menyayangkan, kasus stunting justru banyak terjadi di lokasi lumbung pangan Sleman, seperti di Minggir. Menurutnya, di sana merupakan produsen beras dan ikan lantaran banyaknya praktik mina padi.
"Ini menjadi pekerjaan rumah kami. Ini tanggung jawab bersama," jelasnya.
Kusno juga berharap, akan ada pembinaan dan intervensi lebih lanjut terhadap pola asuh ini. Misalnya, dengan memberikan pendidikan pada pasangan calon sebelum menikah.
"Tempat-tempat dengan kasus stunting tinggi ini akan jadi fokus kami," tandasnya. (del)
Editor : Heru Pratomo