RADAR JOGJA - Gangguan kejiwaan atau gangguan mental adalah penyakit yang mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya atau kombinasi diantaranya.
Kondisi tersebut dapat terjadi sesekali atau berlangsung dalam waktu yang lama. Gangguan mental atau mental illness ini memiliki fasenya dari ringan hingga parah.
Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski rumit, ternyata gangguan kesehatan mental ini termasuk kedalam penyakit yang bisa diobati.
Bahkan, sebagian besar penderita mental disorder ini masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari layaknya orang normal.
Kondisi ini umum terjadi pada siapapun, menurut World Health Organization (WHO), satu dari lima anak-anak dan remaja di dunia memiliki gangguan mental.
Sementara pada orang dewasa, kondisi ini memengaruhi satu dari empat orang di dunia.
Adapun dari kasus tersebut, sekitar setengahnya dimulai pada remaja di bawah usia 14 tahun.
Lalu bagaimana jika seseorang semakin cerdas, rentan terkena gangguan mental?
Dalam beberapa penelitian dikatakan, orang cerdas memiliki risiko terkena gangguan mental, seperti gangguan bipolar empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang miliki kecerdasan kurang.
Orang cerdas terkadang sering merasakan kecemasan fisik dan gelisah. Sementara, seseorang yang memiliki IQ tinggi juga lebih berisiko mengidap gangguan bipolar.
Namun, para peneliti belum menemukan hubungan yang kuat antra tingkat kecerdasan yang gemilang dengan rentannya pada gangguan jiwa.
Kendati demikian, ada satu penelitian yang bisa dijadikan acuan untuk memahami korelasi antara kedua hal tersebut.
Penelitian itu menemukan, bahwa orang yang cerdas memiliki kandungan protein yang sama di otak dengan pengidap skizofrenia dan bipolar.
Protein tersebut memiliki penghubung antara kecerdasan dan jenis gangguan jiwa. Tapi, penelitian tersebut masih dibutuhkan pembuktian lebih lanjut apakah protein benar-benar bisa mempengaruhi otak manusia.
Kebanyakan orang cerdas dan pengidap gangguan jiwa memiliki satu sifat sama, yakni merasa canggung dengan orang lain.
Maka mereka cenderung menarik dari lingkungan sosial.
Bagian otak yang memiliki fungsi mengatur kehidupan sosial jarang digunakan oleh orang cerdas. Alhasil, orang cerdas ini mempunyai energi lebih untuk dialihkan fungsinya.
Pengalihan fungsi ini memungkinkan orang cerdas berpikir, berkonsentrasi, dan memecahkan persoalan rumit.
Maka, hal tersebut membuat orang cerdas bisa memabuat hal yang besar dan mengaplikasinya dengan baik.
Namun demikian, penelitian tersebut harus dikaji lebih jauh untuk memberikan validasi yang tepat.
Sedangkan, pada penelitian lainnya yang melibatkan 3.715 orang, dilakukan penelitian kegelisahan, depresi, autisme, ADHD, dan kelainan di saraf lainnya.
Peserta yang mengikuti penelitian tersebut memiliki IQ di atas 130. Hasil dari penelitian yakni 20 persen peserta mengidap kecemasan dan depresi.
Penelitian tersebut menyebutkan bahwa peserta dari penelitian memiliki imunitas buruk.
Pada penelitian sebelumnya, terbukti adanya hubungan kecerdasan dengan ganggaun mental dan juga gangguan suasana hati serta penyakit fisik.
Peningkatan risiko tersebut berhubungan dengan masalah sosial, karena lebih antusias dengan analitis daripada melakukan interaksi dengan orang lain.
Pada penyakit fisik, para peneliti menemukan korelasi yang jelas antara kapasitas intelektual yang mumpuni dengan kondisi psikologis juga fisiologis pada orang cerdas.
Dari penelitian tersebut menarik sebuah kesimpulan, bahwa orang cerdas memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi dan akhirnya aktivitas tersebut menjadi terlalu berlebihan, sehingga rentan terhadap penyakit.
Yuk, jika terdapat keluarga atau teman yang memiliki gangguan mental berikan mereka dukungan agar mereka bisa pulih sama dengan orang pada umumnya.
Jika ada yang merasa aneh atau kejanggalan pada anggota keluarga, kerabat, diri sendiri, atau bahkan teman terkait gangguan mental segeralah deteksi sedini mungkin dengan datang ke psikolog terdekat. (Bayu Prambudi Susilo)
Editor : Winda Atika Ira Puspita