Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Gangguan Kejiwaan: Penyebab, Gejala, dan Pentingnya Pemeriksaan Dini

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 28 Juni 2024 | 18:25 WIB
Ilustrasi Kesehatan Mental.
Ilustrasi Kesehatan Mental.

RADAR JOGJA - Kesehatan jiwa adalah sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Terkadang orang-orang suka melupakan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Gangguan kejiwaan dapat terjadi pada siapa saja, yang bisa disebabkan karena trauma yang pernah dialami oleh orang tersebut.

Beberapa faktor dapat terjadi gangguan jiwa di antaranya karena putus cinta, kondisi finansial buruk, kehilangan orang tersayang, mengalami kejadian traumatis dan sebagainya.

Meskipun orang-orang yang mengalami peristiwa menyedihkan tersebut tidak menunjukkan tanda atau gejala yang mencurigakan, namun hal itu perlu didampingi agar tidak mengalami gangguan jiwa.

Maka, penting untuk mendeteksi gangguan jiwa pada seseorang sejak dini agar kondisinya tidak semakin parah.

Penyebab gangguan jiwa tidak berdiri sendiri, tetapi bisa muncul karena disebabkan oleh situasi sosial dan juga bisa oleh kelainan tubuh yang menyebabkan gangguan jiwa.

Lalu bagaimana cara mengatasinya, berikut cara mendeteksi gangguan jiwa pada seseorang.

1. Pemeriksaan Kondisi Kejiwaan Melalui Wawancara

Tahapan awal dalam pemeriksaan kondisi kejiwaan adalah wawancara.

Biasanya seseorang diminta informasinya tentang riwayat dan kondisinya secara umum oleh psikiater.

Jika orang tersebut tidak dapat meberikan informasi tentang dirinya secara jelas, maka dari anggota keluarganya dapat membantu menjawab pertanyaan dari psikiater.

Informasi umum yang ditanyakan tersebut biasanya meliputi, identitas pribadi seperti nama, pekerjaan, status perkawinan, riwayat pendidikan, dan hal lain seputar latar belakang sosial dan budaya pasien.

Setelah wawancara selesai, dilanjutkan dengan pemerikasaan utama untuk bisa menentukan diagnosis gangguan mental dari pasien.

Psikiater meminta agar pasien maupun keluarga menceritakan gejala serta riwayat gangguan mental yang diidap sedetail mungkin, selain itu dokter juga perlu menilai apakah ada gejala fisik yang dirasakan.

2. Observasi Status Mental

Tidak hanya wawancara saja, deteksi gangguan jiwa bisa juga dilakukan dengan mengamati kondisi dari pasien saat melakukan wawancara, beberapa hal yang harus diamati antara lain:

- Penampilan. Melalui pakaian, apakah sesuai dengan situasi, usia, dan jenis kelamin dari pasien. Observasi tersebut bisa melalui gerak tubuh, apakah cemas atau tidak.

- Sikap dari pasien terhadap psikiater. Observasi tersebut bisa dilihat dari ekspresi serta respon ketika menjawab pertanyaan.

- Mood dan afeksi

- Pola bicara. Bisa meliputi volume suara dan intonasi selama wawancara, kualitas dan kuantitas selama pembicaraan, kecepatan berbicara, serta bagaimana pasien merespon pertanyaan wawancara tersebut. Apakah pasien menjawab sekedarnya atau bercerita panjang.

- Selain itu, bagaimana cara proses berpikir dari pasien tersebut. Yaitu hubungan dari pembicaraan, apakah pasien sering mengganti topik ketika berbicara, atau apakah pasien berbicara dengan kata-kata yang tidak lazim dan kurang bisa dimengerti.

Persepsi dan daya tanggap pasien terhadap kenyataan atau apakah pasien memiliki halusinasi atau delusi juga ikut diperiksa.

- Konten atau isi Pikiran. Pemeriksaan konten pikiran pasien juga bisa dilihat dari orientasi pasien, kesadaran, kemampuan untuk menulis, membaca dan mengingat.

Selain itu juga dapat mengobservasi apakah pasien memiliki keinginan membunuh atau bunuh diri, fobia, obsesi, pemahaman diri sendiri, pertimbangan (judgement), implusivitas, serta keandalan (reliability).

3. Pemeriksaan Penunjang Dan Psikotes

Jika dari pemeriksaan kedua hal tersebut dirasa kurang membantu dalam proses deteksi gangguan jiwa, mungkin dapat melakukan pemeriksaan penunjang.

Tujuan tersebut dapat membantu psikiater untuk menentukan diagnosis. Pemeriksaan penunjang tersebut bisa berupa pemeriksaan darah dan urine di laboratorium atau dengan pencitraan, misalnya seperti CT scan otak dan MRI otak

Psikotes ini dapat dilakukan sebagai pemeriksaan tahap lanjut. Pemeriksaan penunjang ini berfungsi untuk mengevaluasilebih dalam terkait fungsi mental dan hal spesifik terkait kejiwaan, seperti bagaimana tipe kepribadian, tingkat kecerdasan (IQ), dan kecerdasan emosional (EQ).

Yuk, deteksi gangguan jiwa sedini mungkin sebelum terlambat, selain memperhatikan kesehatan fisik kesehatan jiwa juga perlu diperhatikan. (Bayu Prambudi Susilo)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kesehatan fisik #cara mendeteksi #gangguan kejiwaan #kesehatan mental #trauma #gangguan jiwa #kesehatan jiwa