RADAR JOGJA - Banyak orang beranggapan bahwa kerokan dipercaya bisa mengusir berbagai macam penyakit. Seperti masuk angin atau tidak enak badan.
Cara ini merupakan kearifan lokal yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Teknik pengobatan tradisional yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya.
Ada berbagai macam jenis kerokan. Pada orang dewasa umumnya kerokan menggunakan koin pipih dan minyak.
Untuk diketahui, pada zaman dahulu minyak yang digunakan merupakan minyak tanah.
Namun seiring perkembangan zaman dan peradaban, banyak kerokan yang menggunakan beragam produk minyak.
Teknik kerokan untuk kulit tipis, misalnya pada anak-anak dan bayi umumnya menggunakan bawang merah maupun bawang putih.
Lalu bagaimana jika kerokan menggunakan bawang diterapkan kepada bayi?
Dilansir dari bloombergtechnoz, Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, DR Dr Fitri Hartanto, Sp. A (K) menilai pengobatan tradisional seperti kerokan akan menyakitkan dan menghambat endorfin (hormon kebahagiaan).
"Tentu akan menyakitkan, penekanan yang tidak gentle, justru akan menghambat hormon endorfin. Sehingga mengganggu pertumbuhan karena hormon pertumbuhan keluar dari hormon endorfin," kata dokter Fitri.
Dokter Fitri menjelaskan kerokan dapat membuat peredaran darah menjadi melebar.
"Sebetulnya pengobatan tradisional ada kajian ilmiah, saluran peredaran darah, dikerok terjadi pelebaran darah di kulit, lalu kerokan kita lakukan pada bayi, tentu akan menyakitkan dan membuat rasa tidak nyaman," ujar dokter Fitri.
Dokter Fitri juga mengatakan kerokan menggunakan bawang bisa berisiko terhadap bayi jika aplikasinya tidak diterapkan secara hati-hati.
"Kalau diberikan bawang, asal harus hati-hati. Bisa saja saat bayi menyentuh bawang kena mata berisiko, harusnya tidak memerlukan sesuatu yang berisiko," tutupnya.