RADAR JOGJA - Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Sutarimah Ampuni angkat bicara terkait dengan kasus siswi yang melukai diri sendiri di salah satu sekolah wilayah Kabupaten Gunungkidul.
"Memang (melukai diri sendiri) tujuannya itu ada ke arah bunuh diri, tapi ada juga yang dikenal dengan nama Non-Suicidal Self Injury (NSSI)," kata Sutarimah Ampuni kepada Radar Jogja Rabu (6/3).
NSSI itu merupakan perilaku melukai diri tanpa adanya niat bunuh diri. Kasus seperti itu menurutnya cukup banyak.
Biasanya yang dirasakan adalah dengan melukai diri semacam menjadi pelampiasan dari pergolakan dalam hati.
"Di dalam (hati) itu merasa sumpek, merasa tertekan itu mendapat penyalurannya atau menjadi lega setelah melukai dirinya seperti itu," ujarnya.
Dosen Fakultas Psikologi UGM menyebut, berdasarkan pengalaman mendampingi kejiawaan anak, mereka itu semacam lega kalau sudah melukai dirinya sendiri.
Terjadi karena mereka mungkin tidak punya cara lain untuk menyalurkan tekanan-tekanan tersebut.
Anak-anak sekarang kalau mengalami tekanan dan sebagainya banyak yang dipendam. Tidak mau cerita-cerita karena kalau pun curhat ke orang lain nanti takut malah olok-olok atau jadi bahan gunjingan.
"Mereka malu karena mereka tidak ingin tampak lemah, tidak ingin dilihat sebagai orang stres. Mereka menjaga image-nya sendiri supaya tidak dianggap sebagai orang yang bermasalah, orang yang lemah," jelasnya.
Tapi akibatnya tidak mau terbuka, tidak mau mengungkapkan tekanan-tekanannya dengan cara yang sehat namun justru dengan cara melukai diri sendiri.
Ini perlu segera ada penanganan. Tidak hanya sekolah, tapi juga orang tua dan sebagainya harus memahami trend kesehatan mental belakangan ini.
"Anak di setiap zaman itu kan berbeda ya tantangannya. Kemudian cara-cara untuk menyelesaikan masalahnya itu berbeda," bebernya.
Pertama orang tua harus memahami dulu terkait dengan permasalahan anak. Kedua masyarakat secara umum juga harus menghindari dari judgement, bahwa kasus ini muncul karena anak kurang kasih sayang.
"Padahal belum tentu juga, khan latar belakangnya beda-beda tapi (publik) sudah terlanjur menyeragamkan penyebab kasus misalnya kurang kasih sayang orang tua, padahal tidak juga," ungkapnya.
Sebab masalah kesehatan mental latar belakangnya sangat beragam. Semua harus menghindari memberikan label-label seperti stres, nakal dan sebagainya. "Ini membuat anak-anak semakin tertutup," ucapnya.
Jangan menghakimi, namun alangkah baiknya menawarkan bantuan dan menjadi orang yang dapat dipercaya, jangan salah-salahkan.
Kemudian sekolah hendaknya bekerjasama dengan pihak lain dalam menangani kasus jangan menyimpan permasalahan. Sekolah harus memiliki kesadaran mengenai kesehatan jiwa atau kesehatan mental. "Ini sudah krusial sekali, jadi sekarang kesadaran mengenai kesehatan mental harus ditumbuhkan di sekolah," tegasnya. (gun/pra)
Editor : Satria Pradika