Bahkan tren PTM yang terus meningkat tersebut ternyata menyerap biaya terbesar dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko telah dilakukan guna menurunkan prevalensi DM dan penyakit jantung.
“Walaupun prakteknya kurang maksimal,” tegas pria yang akrab disapa dr. Mahe itu dalam sebuah seminar kesehatan bertajuk Implementasi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Teknologi Digital untuk Memandirikan Masyarakat Hidup Sehat Senin (20/2).
Seminar tersebut merupakan salah satu bentuk sosialisasi dari hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dr. Mahe dan Timnya sejak tahun 2021. Salah satu hasil penelitian yang dihasilkan dalam bentuk aplikasi. Aplikasi tersebut berfungsi untuk memantau kadar glukosa darah dan kesehatan jantung.
“Era teknologi digital seperti sekarang ini, tentunya harus dimanfaatkan. Salah satunya inovasi berbasis smartphone untuk pemantauan dan deteksi dini DM sehingga dapat lebih efektif dalam pencegahan dan pengobatan,” katanya.
Mahe menjabarkan lebih lanjut, aplikasi tersebut dilengkapi dengan struktur menu yang praktis, ilustrasi gambar, dan langkah-langkah cara penggunaan aplikasi. Hal tersebut tentu dapat mempermudah pasien dalam melakukan pemantauan DM dan penyakit jantung secara mandiri.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Pemerintah Kalurahan Sidokarto Godean, Pemerintah Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Sleman, dan BPJS Kesehatan Cabang Sleman. Tampak peserta begitu antusias dengan penemuan baru yang dikembangkan dr. Mahe dalam melakukan deteksi dini yang dapat dilakukan secara mandiri.
Selain dr. Mahe, turut hadir beberapa narasumber lain seperti Sekertaris Daerah Kabupaten Sleman Hardo Kiswoyo, Lurah Sidokarto Istiyarto Agus Sutaryo dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sleman dr. M Idar Aris Munandar.
Sekertaris Daerah Kabupaten Sleman Harda Kiswaya memberikan apresiasi kepada dr. Mahe selaku peneliti dan Dosen MARS UMY yang telah berhasil menciptakan inovasi dalam oemantauan dan detekai Dini DM dan Penyakit Jantung.
“Kami berharap, penelitian ini dapat terus berlanjut dan bermanfaat bagi masyarakat umum terlebih masyarakat di Kabupaten Sleman dan sekitarnya,” ujar Harda.
Selain itu, peserta berkesempatan memperoleh banyak informasi kesehatan dan tata cara dalam menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sleman dr. M Idar Aris Munandar menyampaikan salah satu keunggulan aplikasi mobile JKN.
Salah satunya yakni antrian online. Masyarakat dapat mendaftar via online dari rumah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan baik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun di rumah sakit.
“Peserta cukup memakai NIK atau KTP untuk mengakses kesehatan. Namun dengan catatan sudah masuk dalam peserta aktif dan tervalidasi dan terverifikasi,” jelasnya. (*/om2/dwi) Editor : Editor News