Cuaca Panas Dongkrak Penjualan AC selama Kemarau, Pembangunan Rumah Turut Jadi Penyumbang

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:16 WIB

 

Warga mencari rumput untuk pakan ternak saat cuaca panas di kawasan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Selasa (15/9). Cuaca terik kembali terasa menyengat di sejumlah wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi saat sebagian wilayah Indonesia, termasuk DIJ, masih berada dalam periode musim kemarau dan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 34 derajat celsius. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Warga mencari rumput untuk pakan ternak saat cuaca panas di kawasan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Selasa (15/9). Cuaca terik kembali terasa menyengat di sejumlah wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi saat sebagian wilayah Indonesia, termasuk DIJ, masih berada dalam periode musim kemarau dan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 34 derajat celsius. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Cuaca panas mendorong penjualan pendingin udara atau air conditioner (AC) di DIY meningkat hingga 40 persen. Midea Electronics Indonesia mencatat penjualan AC di wilayah DIY bahkan mencapai sekitar 4.000-5.000 unit per bulan sejak Mei hingga Oktober 2026. 

Tren ini diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan pendingin ruangan saat musim kemarau, di tengah pertumbuhan pembangunan perumahan baru.

Branch Manager Jogjakarta Midea Electronics Indonesia Vincentius Gema mengatakan, peningkatan penjualan AC mulai terasa sejak Mei 2026, seiring masuknya musim kemarau dan meningkatnya suhu udara.

Menurut Vincent, suhu siang hari di Jogjakarta dapat mencapai kisaran 37-38 derajat Celsius. Sementara itu, suhu malam hari berada di kisaran 24-25 derajat Celsius dengan kondisi udara yang terasa lembap.

Baca Juga: Inspektorat Bantul Tak Temukan Paksaan Iuran, Dukuh Jambean Bantah Pungutan Jadi Syarat Pelayanan

“Kondisi ini mendorong masyarakat mencari solusi pendingin ruangan," ujar Vincent dalam kegiatan yang diselenggarakan di salah satu hotel di Kota Jogja Selasa (13/10).

Vincent mengatakan, peningkatan permintaan tidak hanya dipengaruhi cuaca. Tetapi juga pertumbuhan pembangunan perumahan baru di Jogjakarta. Bertambahnya hunian dinilai turut meningkatkan kebutuhan perangkat elektronik rumah tangga, termasuk AC.

“Pembangunan hunian baru ini berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan peralatan rumah tangga, khususnya produk elektronik pendingin," tambah Vincentius.

Di sisi lain, kondisi cuaca panas berpotensi berlangsung seiring mundurnya awal musim hujan. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Jogjakarta Mamenun menyatakan, fenomena El Niño kategori kuat berpeluang terjadi hingga awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

 

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat melakukan langkah antisipasi terhadap dampak cuaca dan iklim ekstrem. Ancaman yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara akibat mundurnya awal musim hujan.

“Awal musim hujan diprediksi baru terjadi pada dasarian tiga November hingga dasarian pertama Desember 2026,” beber Mamenun. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
pendingin udara kemarau cuaca panas ac BMKG Jogjakarta