JOGJA - Pesanggrahan Ambarketawang menjadi titik awal pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebelum Keraton Jogja selesai dibangun. Di tempat tersebut, Sultan Hamengku Buwono (HB) I tinggal sekaligus menjalankan roda pemerintahan selama kurang lebih satu tahun setelah berdirinya Kasultanan Jogja pada 1755.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan DIY Andreas Bayu Nugroho mengatakan, Ambarketawang memiliki posisi penting karena menjadi tempat Sultan HB I menjalankan pemerintahan sekaligus tinggal sementara menunggu pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat rampung.
“Dari sini ada nilai kepemimpinan, budaya, dan historis yang harus kita jaga bersama,” katanya dalam Sinau Sejarah yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewan DIY dan ditayangkan melalui kanal YouTube bertema ”Membaca Perjalanan Kraton Yogyakarta Melalui Sejarah Pesanggrahan Ambarketawang”, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: Penumpang WNA Naik 7,8 Persen, KAI Daop 6: Dongkrak Ekonomi Pariwisata
Menurutnya, perjalanan sejarah tersebut menjadi bagian penting dari lahirnya keistimewaan DIY. Nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah Keraton juga dinilai masih relevan untuk kehidupan saat ini.
Sejarawan UGM Baha Uddin menjelaskan, keberadaan Ambarketawang tidak bisa dilepaskan dari Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut membagi wilayah Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.
Sebulan kemudian, tepatnya 15 Maret 1755, Sultan HB I mendeklarasikan berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, pemerintahan belum memiliki tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. ”Karena itu Sultan memerintahkan membangun kembali Pesanggrahan Ambarketawang,” jelasnya.
Baca Juga: Jude Bellingham: Harry Kane adalah pemain Terbaik Sepanjang Masa Timnas Inggris
Baha menerangkan, sebelum menjadi bagian dari Kasultanan Jogja, Ambarketawang dikenal sebagai Pesanggrahan Gamping. Tempat tersebut sebelumnya digunakan sebagai persinggahan untuk berburu dan berada di kawasan yang masih berupa hutan.
Pembangunan kembali pesanggrahan dilakukan Tumenggung Joyo Winoto sejak Maret hingga 9 Oktober 1755. Setelah selesai, Sultan HB I kemudian mesanggrah di Ambarketawang. Dari lokasi tersebut, pembangunan Keraton Jogja mulai dilakukan.
”Ambarketawang menjadi pusat pemerintahan pertama Kasultanan Jogja selama kurang lebih satu tahun,” ungkap Baha.
Baca Juga: ORI DIY Soroti Dugaan LKS Berbayar dan Outing Class Wajib di Kulon Progo, DPRD Minta Evaluasi
Keberadaan Ambarketawang juga berkaitan dengan pembangunan Keraton. Di sekitar pesanggrahan terdapat Gunung Gamping yang menjadi salah satu sumber material pembangunan keraton.
Baha menambahkan, posisi pesanggrahan yang relatif tinggi dan menghadap ke timur juga memungkinkan Sultan melihat proses pembangunan keraton dari kejauhan.
Sementara itu, Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra menyebut Ambarketawang sebagai salah satu jejak awal pemerintahan Sultan HB I. Momentum 7 Oktober yang bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-270 Kota Jogja dinilai menjadi kesempatan untuk kembali merefleksikan perjalanan sejarah tersebut.
Baca Juga: Raih Kemenangan Sempurna 6-0, SMAN 1 Kalasan Mantap ke Final AZA 3x3
”Momentum 7 Oktober mengajak kita merawat jejak Jogja, baik warisan budaya, situs, maupun bangunan fisiknya,” katanya.
Oleh karena itu, Sekretaris AGSI DIY Luki Fidiantoro berpesan, pembelajaran sejarah perlu dikemas lebih menarik. Agar generasi muda saat ini, tertarik dengan sejarah salah satunya mengenai Pesanggrahan Ambarketawang ini. Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya disampaikan melalui hafalan, tetapi perlu mengajak peserta memahami proses dan alasan di balik suatu peristiwa.
”Kita disuruh membayangkan sejarah, itu yang tidak menarik. Tetapi bagaimana sejarah itu bisa terjadi dan mengapa terjadi, pertanyaan-pertanyaan itu yang jarang diungkapkan,” ujarnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita