Pemkot Jogja Bakal Hidupkan Lagi Kentongan, Tanda Peringatan Tanda Bahaya

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 19:40 WIB
SEREMONI: Pembukaan Sunday Morning ditandai pemukulan kentongan oleh Wawali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan (tengah) didampingi Kabid UKM Dinas PerindKopUKM Kota Yogyakarta.
SEREMONI: Pembukaan Sunday Morning ditandai pemukulan kentongan oleh Wawali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan (tengah) didampingi Kabid UKM Dinas PerindKopUKM Kota Yogyakarta.

JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja berencana menghidupkan kembali kentongan sebagai sistem peringatan tanda bahaya atau bencana. Ini karena alat komunikasi zaman dahulu itu dinilai lebih mudah digunakan dan dekat dengan masyarakat.

Kepala BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, kentongan bisa menjadi alternatif sistem peringatan dini bencana ketika listrik padam atau komunikasi radio mati. Sebab penggunaan kentongan manual sangat efektif untuk menyampaikan pesan bahaya kepada masyarakat.

Disamping itu, kentongan juga sangat dekat dengan masyarakat karena tersedia di hampir seluruh pos-pos ronda. Hanya memang saat ini mulai jarang digunakan karena masyarakat lebih akrab menggunakan alat komunikasi modern seperti handphone.

Baca Juga: Gaji PPPK Bakal Ditanggung APBN, Pemprov Sambut Positif tapi Waspadai Penurunan DAU

“Kami ingin mengoptimalkan pemanfaatan kentongan itu secara baik dan membudayakan itu, karena dekat dengan masyarakat dan simpel,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).

Meski akan menghidupkan kembali penggunaan kentongan, instansi ini tetap mengoptimalkan sistem komunikasi kebencanaan modern. Misalnya lewat Jogja Connect (Jonet) yang mengintegrasikan jejaring komunikasi kebencanaan. Jonet diproyeksikan dapat memperkuat sistem peringatan dini dan koordinasi ketika terjadi bencana.

Nur menjelaskan, Jonet dapat mengintegrasikan semua kanal komunikasi baik digital maupun manual. Sehingga digadang-gadang mampu memperkuat komunikasi kebencanaan, peringatan dini bencana dan koordinasi data terkait bencana melalui radio rig untuk disebarkan kepada masyarakat lewat berbagai platform.

“Intinya, bagaimana Jonet itu membangun konektivitas secara terintegrasi,” terangnya.

Baca Juga: Hipenari Kulon Progo Masuk Lima Besar Karang Taruna Berprestasi Nasional

Sementara itu, Anggota Kampung Tangguh Bencana (KTB) Sindurejan, Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan Antok mendukung penggunaan kentongan sebagai peringatan bencana.

Namun memang perlu sosialisasi kembali kepada masyarakat terkait dengan kode atau tanda pukulan sesuai kategori bahaya. Sebab di tingkat kewilayahan kentongan sudah jarang digunakan.

“Jika semua fasilitas (komunikasi) mati, tanda-tanda kentongan mungkin bisa dihidupkan kembali,” tambahnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Peringatan Tanda Bahaya sistem peringatan tanda bencana Pemkot Jogja kentongan