JOGJA - Rencana penerapan full pedestrian di kawasan Malioboro bakal berdampak terhadap operasional ojek online (ojol). Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Jogjakarta meminta rencana tersebut dikaji matang dengan mempertimbangkan kondisi para driver yang beroperasi di kawasan tersebut.
Ketua Wakanda DIY Rie Rahmawati mengatakan, penerapan full pedestrian berpotensi menyulitkan driver, terutama saat mengambil pesanan makanan, barang, maupun menjemput penumpang. Sebab, driver tidak bisa langsung masuk ke lokasi yang menjadi titik pengambilan atau penjemputan.
“Kalau yang untuk makanan kan kita ada timing dari aplikator,” katanya saat ditemui di DPRD DIY Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, persoalan waktu menjadi salah satu kendala utama. Jika melewati batas waktu yang telah ditentukan, pesanan dapat dibatalkan secara otomatis dan memengaruhi performa driver.
Kondisi serupa juga terjadi saat Malioboro ditutup mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Driver yang mendapat pesanan dari lokasi cukup jauh harus menghadapi kemacetan untuk mencapai kawasan Malioboro. Waktu tempuh tersebut dinilai tidak selalu sesuai dengan batas waktu yang diberikan aplikator.
Dampaknya tidak hanya pada satu pesanan. Jika performa driver menurun akibat pesanan dibatalkan, kesempatan mendapatkan order berikutnya juga dapat berkurang. Sistem tersebut juga berkaitan dengan level dan insentif driver.
“Misalnya biasanya dapat lima order, bisa hanya dapat satu, bahkan kadang tidak dapat,” jelasnya.
Selain waktu, penentuan titik penjemputan juga menjadi persoalan. Dia menyebut masih ada penumpang yang meminta dijemput tepat di lokasi tertentu meski akses kendaraan sudah dibatasi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan keluhan dari penumpang kepada driver.
Karena itu, Wakanda DIJ berharap ada pertemuan yang melibatkan driver, aplikator, pemilik restoran, serta pemangku kepentingan terkait. Pertemuan tersebut diperlukan untuk mencari solusi yang tidak merugikan salah satu pihak.
“Solusinya jangan hanya untuk driver, tetapi juga resto dan aplikator,” pintanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Rizki Budi Utomo mengatakan, memang persoalan titik jemput ojol perlu disiapkan apabila full pedestrian Malioboro diterapkan. Penentuan titik tersebut nantinya menjadi kewenangan Dishub Kota Jogja karena berada di wilayah Malioboro.
“Kami akan mencoba berkoordinasi dengan dinas kota untuk menentukan titik-titik penjemputan ojek online di kawasan Malioboro saat pedestrian,” katanya.
Selain berkoordinasi dengan Pemkot Jogja, pihaknya pun juga akan memanggil pimpinan perusahaan-perusahan di Malioboro terkait dengan persoalan ini.
Lanjutnya, saat diterapkan full pedestrian sistem pada aplikasi ojol juga perlu menyesuaikan. Waktu yang diberikan kepada driver untuk mengambil pesanan dari restoran di kawasan Malioboro dinilai tidak bisa disamakan dengan restoran yang berada di luar kawasan tersebut.
“Harus ada jeda waktu yang lebih lama,” sarannya. (cin)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber