Pernikahan Dini Bisa Picu Balita Alami Stunting, Pemkot Jogja Perkuat Edukasi Pencegahan

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 19:56 WIB
KABAR BAIK: Orang tua mengajak anaknya yang masih balita berjalan di kawasan Jetis, Kota Jogja, Rabu (23/9/2026). Penanganan stunting di Jogja turun, upaya melalui pemberian makanan tambahan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KABAR BAIK: Orang tua mengajak anaknya yang masih balita berjalan di kawasan Jetis, Kota Jogja, Rabu (23/9/2026). Penanganan stunting di Jogja turun, upaya melalui pemberian makanan tambahan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja mengungkap faktor penyebab stunting tidak hanya berasal dari asupan makanan. Namun kurangnya edukasi dari orang tua juga menjadi salah satu faktor.

Kepala DP3AP2KB Kota Jogja Retnaningtyas mengatakan, berdasarkan hasil kunjungan di keluarga yang memiliki anak risiko stunting di Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan pihaknya menemukan masalah stunting tidak hanya disebabkan anak tidak mau makan.

Namun ada faktor lain seperti kurangnya edukasi, kondisi lingkungan, dan usia perkawinan di bawah umur.

Baca Juga: HIV Kota Jogja Tembus 1.840 Kasus, 41 Kasus Baru Tercatat hingga Juni

Eno sapaannya menyatakan, lewat kegiatan kunjungan pemerintah yang dilaksanakan setiap hari Jumat pihaknya akan memantau perkembangan anak dan pemberian makanan tambahan (PMT) berupa telur dan susu. Para orang tua juga diberikan edukasi agar anaknya terhindar dari stunting.

“Harapannya edukasi langsung kepada keluarga-keluarga berisiko stunting, semakin bisa diterima masyarakat, supaya ada perubahan pola di keluarga-keluarga yang berisiko stunting,” ujar Eno, Minggu (27/9/2026).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Jogja Aan Iswanti membeberkan, prevalensi stunting saat ini menyentuh angka 8,25 persen. Kemudian persentase penambahan kasus baru 0,4 persen.

Baca Juga: Ingatkan Bahaya Warga Bakar Sampah, DLHK: Asap Mengandung Zat Pencemar Berisiko Ganggu Kesehatan

Aan menyebut, penambahan kasus stunting di Kota Jogja telah memenuhi standar maksimal yang ditentukan pemerintah sebesar 3 persen. Sehingga upaya pencegahan dan penanganan stunting terus dilakukan agar jumlah kasus baru tidak semakin banyak.

“Untuk pencegahan itu mulai dari remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pemeriksaan kesehatan ibu hamil di puskesmas hingga setelah melahirkan penanganan pada balita,” katanya. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Edukasi Pencegahan Stunting Pemkot Jogja pernikahan dini