JOGJA - Mengenalkan sosok dan perjuangan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib kepada masyarakat, khususnya generasi muda, Social Movement Institute berkolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) menggelar kegiatan Cak Munir di Malioboro. Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Malioboro mulai 24 hingga 28 September.
Penyelenggara kegiatan Achmad Oca mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi upaya untuk membangun ingatan publik terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu yang hingga kini belum tuntas.
"Kami ingin memberikan pendidikan HAM kepada masyarakat dengan cara yang kreatif, partisipatif, dan terbuka," ujarnya Jumat (25/9/2026).
Kegiatan dikemas dalam bentuk pameran yang menampilkan sejumlah informasi mengenai Munir. Di antaranya timeline kasus Munir, kiprah, serta berbagai perjuangan yang pernah dilakukan aktivis HAM tersebut.
Baca Juga: Mau Nonton DBL Jogja 2026? Begini Cara Beli Tiketnya
Achmad menjelaskan, pemilihan Malioboro sebagai lokasi kegiatan karena ruang publik dinilai efektif untuk menyampaikan pendidikan HAM kepada masyarakat secara lebih luas.
"Masyarakat perlu tahu masih ada kasus-kasus seperti ini yang belum diselesaikan negara," katanya.
Selain pameran, rangkaian kegiatan juga diisi dengan aksi Kamisan, walking tour, orasi HAM, pembacaan puisi, hingga kegiatan bernyanyi untuk Munir. Dalam walking tour, peserta diajak menyusuri kawasan Malioboro sembari mendengarkan cerita dari orang-orang yang pernah hidup dan bekerja bersama Munir maupun menyaksikan langsung perjuangannya.
Baca Juga: 5.567 Orang Jadi Korban Dugaan Keracunan MBG, Dinkes Catat 47 Kasus di DIY Mayoritas Alami Diare
Instalasi mengenai Munir ditempatkan di lima titik sepanjang Malioboro. Namun, instalasi tersebut tidak dipasang secara permanen di satu lokasi. Penyelenggara melakukan bongkar pasang dan memindahkan titik instalasi sesuai dengan kondisi ruang publik.
"Kami berkoordinasi dengan pihak yang mengelola Malioboro, UPT Cagar Budaya, dan Satpol PP. Karena ini ruang publik dan banyak pihak yang menggunakan," jelasnya.
Persiapan kegiatan tersebut dilakukan sekitar dua pekan. Achmad berharap kegiatan itu tidak hanya mendorong penyelesaian kasus Munir, tetapi juga membuat gagasan dan perjuangannya terus dikenal generasi muda.
"Bukan sekadar tahu wajahnya, tetapi memahami apa yang diperjuangkan Cak Munir sehingga bisa menjadi inspirasi untuk bertindak," tandasnya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita