Stunting di Kot Jogja Turun Signifikan, Kini Jadi 8,24 Persen: Klaim Intervensi Gizi sejak Dini

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:18 WIB
KABAR BAIK: Orang tua mengajak anaknya yang masih balita berjalan di kawasan Jetis, Kota Jogja, Rabu (23/9/2026). Penanganan stunting di Jogja turun, upaya melalui pemberian makanan tambahan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KABAR BAIK: Orang tua mengajak anaknya yang masih balita berjalan di kawasan Jetis, Kota Jogja, Rabu (23/9/2026). Penanganan stunting di Jogja turun, upaya melalui pemberian makanan tambahan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

JOGJA - Prevalensi stunting di Kota Jogja turun signifikan menjadi 8,24 persen atau sekitar 753 balita pada 2026, dari sekitar 14 persen pada 2025. Penurunan tersebut didukung pemantauan pertumbuhan balita secara rutin dan intervensi gizi sejak dini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah mengatakan, dalam menurunkan prevalensi stunting itu melakukan beberapa strategi. Salah satunya pencegahan sejak dini melalui pemantauan pertumbuhan balita secara rutin melalui posyandu.

“Untuk balita dengan kondisi gizi buruk, penanganan dilakukan melalui tata laksana di puskesmas dan rumah sakit,” jelas Lana, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Bawa Pulang 21 Medali, Bantul Jadi Juara Umum PORPRIDA DIY Tahun Ini

Lana menjelaskan, jika ada indikasi mengarah kekurangan gizi, maka pemerintah melalui posyandu puskesmas akan melaksanakan pemberian makanan tambahan (PMT). PMT diberikan sesuai kondisi balita. Bisa mulai dari usia dua minggu, empat minggu hingga delapan minggu.

Ia menyatakan, pemerintah kota (pemkot) juga melakukan pemantauan secara berjenjang hingga tingkat kelurahan. Pemetaan hingga tingkatan wilayah terkecil penting agar intervensi dapat dilakukan secara lebih terarah.

Misal, jika ditemukan balita tidak mengalami kenaikan dalam satu kali pemantauan maka langsung ditindak lanjuti dengan rujukan ke rumah sakit. Pihak keluarga yang memiliki balita permasalahan gizi juga mendapatkan pendampingan melalui tim pendamping keluarga.

“Saat ini, Kota Jogja memiliki sekitar 495 tim pendamping keluarga,” beber Lana.

Baca Juga: Kekhawatiran Debit Air Perlu Dipantau, DPUPESDM: Dampak Lingkungan Jadi Kewenangan DLHK

Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menekankan keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kerja bersama dan pemantauan yang konsisten. Sehingga ia mendorong agar pemantauan balita terus dilakukan dan dievaluasi. Bahkan perlu pemetaan data stunting hingga kecamatan dan kelurahan.

“Dengan pola tersebut, pemerintah dapat mengetahui wilayah mana yang membutuhkan intervensi lebih besar serta segera merespons apabila angka stunting di suatu wilayah kembali meningkat,” katanya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
turun signifikan Intervensi Gizi prevalensi stunting puskesmas posyandu