JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi curah hujan masih sangat minim hingga akhir tahun mendatang. Fenomena ini karena El Nino kategori sangat kuat bakal bertahan hingga awal tahun 2027. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kekeringan.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun mengatakan, berdasarkan hasil pengamatannya, fenomena pemanasan suhu muka air laut itu linier dengan menurunnya curah hujan hingga tiga bulan ke depan.
“El Nino dapat mengakibatkan kekeringan yang berpeluang terjadi hingga Desember 2026,” ujar Mamenun dalam keterangan tertulisnya, Minggu (20/9/2026).
Baca Juga: Positif Tifoid dan Bakteri, Satu Murid SMKN 2 Jogja Opname karena Diduga Keracunan MBG
Pada Oktober, curah hujan diprediksi berkisar 0-50 mm/bulan atau masuk kriteria rendah. Kemudian memasuki November, meski curah hujan sudah naik di kisaran 51–300 mm/bulan kategorinya masih kriteria rendah. Begitupula pada Desember juga masuk kriteria yang sama meski curah hujan berada di kisaran 151–500 mm/bulan.
Melihat kondisi tersebut, ia mengimbau masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau di wilayah rentan. Seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih. Sebab musim kemarau tahun ini dimungkinkan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, pada akhir September ini BMKG Yogyakarta juga telah mengeluarkan status awas kekeringan bagi seluruh kabupaten/kota di DIY. Lewat keputusan tersebut masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengelola sumber daya air secara efisien dan menyesuaikan kegiatan sesuai kondisi wilayah. “Kondisi musim kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Bekali Keterampilan, Disnakertrans DIY Dorong Lansia Tetap Produktif Berwirausaha
Sebagai informasi, Pemkot Jogja telah berupaya meminimalisasi potensi bencana selama musim kemarau. Salah satunya melalui surat edaran (SE) Nomor 100.3.4/2131 tahun 2026 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Kekeringan.
Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyampaikan, dalam edaran tersebut ditekankan tentang pentingnya langkah antisipatif secara terpadu. Baik itu masyarakat maupun organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kami meminta masyarakat dan seluruh instansi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan kesehatan, dan potensi kebakaran,” jelasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita