Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPBD Bantul Bersiap Perpanjang Status Siaga Darurat Kekeringan, Ini Pertimbangannya!

A
Penulis: Aris Romadhon❯
BPBD Bantul saat melakukan dropping air bersih. ISTIMEWA
BPBD Bantul saat melakukan dropping air bersih. ISTIMEWA

Advertisement

BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mulai mempertimbangkan memperpanjang status siaga darurat kekeringan yang akan berakhir pada 25 September 2026. Langkah tersebut disiapkan menyusul prediksi kondisi kemarau masih berlangsung hingga awal 2027 akibat fenomena El Nino.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Peralatan, Rehabilitasi, dan Konstruksi BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, rencana ini akan dirapatkan terlebih dahulu Selasa pekan depan. Terutama kaitan membahas perkembangan kondisi kekeringan sekaligus kemungkinan memperpanjang status siaga darurat.

“Karena status siaga darurat kekeringan akan habis pada 25 September 2026. Nanti kami akan diskusi terkait perkembangan dari BMKG, sepertinya akan diperpanjang periode status siaganya,” ujar Antoni, Kamis (17/9/2026).

Dia menjelaskan, hujan dengan intensitas rendah beberapa waktu terakhir dinilai belum cukup untuk mengembalikan ketersediaan air di wilayah terdampak kekeringan. “Memang hujannya tidak terlalu besar sehingga kondisi air tanah belum terpenuhi,” katanya.

Kondisi itu membuat distribusi air bersih masih terus dilakukan BPBD Bantul. Hingga 15 September 2026, sebanyak 2,85 juta liter air bersih atau setara 556 tangki telah disalurkan ke 16 kalurahan yang tersebar di delapan kapanewon. Meliputi, Kapanewon Pundong, Imogiri, Dlingo, Pajangan, Piyungan, Srandakan, Sedayu, dan Kasihan.

Advertisement

Antoni menyebut kebutuhan air bersih tahun ini memang masih lebih rendah dibandingkan kondisi kekeringan pada 2023. Pada tahun tersebut, distribusi air bersih bahkan mencapai sekitar 11 juta liter hingga Desember.

Meski demikian, BPBD tidak ingin menjadikan angka distribusi yang lebih rendah sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Sebab, hujan yang mulai turun belum otomatis mengakhiri krisis air di sejumlah wilayah. “Walaupun dari BMKG menyatakan Oktober sudah mulai hujan, tapi itu tidak bisa langsung mengisi stok air tanah secara langsung,” jelasnya.

Dengan prediksi kemarau yang masih dapat berlangsung hingga Februari 2027, insansi ini menyiapkan langkah antisipasi agar penanganan kekeringan tetap dapat dilakukan apabila kebutuhan air bersih kembali meningkat. (cr2/wia)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pilur 30 Kalurahan di Bantul Dipastikan Tanpa Kotak Kosong, Dewan: Hindari Kampanye Hitam

Pilur 30 Kalurahan di Bantul Dipastikan Tanpa Kotak Kosong, Dewan: Hindari Kampanye Hitam

Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Kabupaten Bantul dipastikan tidak akan menghadirkan pilihan kotak kosong. Sebanyak 30 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon kini telah memiliki sedikitnya dua bakal calon lurah.

Tekan Harga Bapok, Pemkab Bantul Gelontorkan Subsidi Angkut Rp 2.000 Per Kg saat Operasi Pasar

Tekan Harga Bapok, Pemkab Bantul Gelontorkan Subsidi Angkut Rp 2.000 Per Kg saat Operasi Pasar

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul memberikan subsidi biaya angkut sebesar Rp 2.000 per kilogram (kg) untuk komoditas bahan pokok yang disalurkan melalui mekanisme operasi pasar. Subsidi ini menjadi salah satu ...

Bakteri Ditemukan di Sampel MBG SPPG Patalan 2 Bantul, Dinkes Bantul Pastikan Korban Tak Bertambah

Bakteri Ditemukan di Sampel MBG SPPG Patalan 2 Bantul, Dinkes Bantul Pastikan Korban Tak Bertambah

BANTUL - Bakteri Bacillus sp ditemukan pada sampel makanan program MBG yang disalurkan SPPG Patalan 2. Temuan itu merupakan hasil uji laboratorium yang dilakukan setelah muncul dugaan keracunan pada sejumlah siswa

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer