Nonton Film Sambil Naik Becak, Cara Unik Kenalkan Warisan Budaya Jogja ke Gen Z

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 18:29 WIB
Ilustrasi AI suasana menonton film dari atas becak listrik di kawasan heritage Yogyakarta. Program Becak Drive-In Cinema menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Ilustrasi AI suasana menonton film dari atas becak listrik di kawasan heritage Yogyakarta. Program Becak Drive-In Cinema menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

RADAR JOGJA – Menonton film biasanya identik dengan bioskop, kursi empuk, dan layar besar. Namun, di Yogyakarta ada cara yang lebih unik. Penonton diajak menikmati film sambil menaiki becak listrik dalam program Becak Drive-In Cinema.

Program tersebut menjadi bagian dari Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026. Konsepnya cukup berbeda dari kegiatan menonton film pada umumnya. Sebelum menyaksikan film, penonton diajak berkeliling menggunakan becak listrik menyusuri kawasan Kotabaru dan Terban.

Setelah berkeliling, penonton kemudian menuju kawasan Pasar Terban untuk menikmati pemutaran film dari atas becak. Perpaduan antara film, becak, dan kawasan heritage ini menjadi pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa penonton lebih dekat dengan cerita budaya Yogyakarta.

KHFF 2026 resmi dibuka pada 17 September 2026. Festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali warisan budaya Yogyakarta melalui pendekatan yang lebih kreatif.

Baca Juga: DPRD NTT Soroti Keamanan Warga di Papua, Sejumlah Warga Minta Difasilitasi Pulang

Konsep Becak Drive-In Cinema juga menarik karena menghadirkan becak dalam bentuk yang berbeda. Becak listrik yang digunakan dalam kegiatan tersebut mempertemukan unsur transportasi khas Yogyakarta dengan teknologi yang lebih modern.

Bagi generasi muda, khususnya Gen Z yang terbiasa mencari pengalaman baru dan menarik secara visual, konsep seperti ini bisa menjadi cara lain untuk mengenal budaya. Warisan budaya tidak hanya diperkenalkan melalui museum, pertunjukan tradisional, atau kegiatan formal, tetapi juga bisa dikemas dalam aktivitas yang lebih santai.

Pengalaman berkeliling menggunakan becak sebelum menonton film membuat perjalanan menjadi bagian dari acara. Penonton tidak sekadar datang, duduk, kemudian pulang, tetapi juga diajak melihat suasana kawasan yang memiliki nilai sejarah.

Tema yang diangkat dalam KHFF 2026 adalah “Menafsir Ulang Warisan: Film sebagai Ruang Kritik dan Negosiasi Budaya.” Melalui tema tersebut, festival berusaha membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat warisan budaya dari sudut pandang yang lebih luas.

Film menjadi salah satu media yang digunakan untuk membicarakan persoalan budaya, identitas, sejarah, hingga kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sesuatu yang terus berkembang mengikuti zaman.

Baca Juga: Pantai Cermin Serdang Bedagai, Tempat Menikmati Deburan Ombak dan Indahnya Suasana Pesisir

KHFF 2026 juga mencatat antusiasme dari para sineas. Sebanyak 184 film tercatat mengikuti festival tersebut. Karya-karya yang masuk menjadi bagian dari ruang pertemuan antara film dan isu kebudayaan.

Hadirnya Becak Drive-In Cinema memperlihatkan bahwa mengenalkan budaya kepada anak muda tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Aktivitas sederhana seperti naik becak dan menonton film bisa dikembangkan menjadi pengalaman yang lebih menarik.

Di tengah gaya hidup digital yang semakin dekat dengan Gen Z, pendekatan kreatif seperti ini dapat membuat warisan budaya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dinikmati dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

(Maria Margaretha Nirong Gedo) 

Sumber: ANTARA News Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Drive in cinema Kotabaru Heritage KHFF film festival becak