JOGJA - Pemkot Jogja kini tengah melakukan perburuan kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) dengan metode active case finding (ACF). Program tersebut tidak hanya menyasar penderita atau kontak erat usia dewasa. Namun juga difokuskan pada anak-anak.
Epidemiolog Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Jogja Setyogati Candra Dewi mengatakan, pemeriksaan ACF kasus TBC dilakukan dengan alat x-ray portable yang dipinjam dari rumah sakit paru di Jogjakarta. Total sudah ada 5 lokasi yang diperiksa menggunakan metode tersebut dari target 25 lokasi.
Setyogati menyampaikan, sasaran ACF tak hanya berpusat pada lansia dan usia produktif. Namun Anak-anak dan balita ikut jadi fokus petugas. Misalnya balita atau anak yang mengalami berat badan stagnan atau berisiko stunting langsung diperiksa.
Baca Juga: Muncul Lima Titik Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kebumen dalam Sepekan
"Penegakan diagnosis TBC pada anak memang lebih sulit ketimbang dewasa karena susah ambil sampel dahak. Rontgen ini sangat membantu melihat kondisi paru-paru mereka," ujarnya, Minggu (13/9/2026).
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mencatat hingga Juli 2026 kasus TBC pada anak ada 174 kasus. Mayoritas penderitanya merupakan kategori usia bawah lima tahun (balita).
Baca Juga: FKY 2026 Dibuka Tak Biasa, Kunto Aji Nembang Macapat dan HB X Baca Geguritan
Endang membeberkan bahwa anak-anak memang rawan terinfeksi TBC karena imunitas tubuh mereka masih lemah. Sehingga mudah tertular dari penderita maupun kontak erat. Bahkan pernah ada kasus penularan kepada balita yang berasal bukan dari orang terdekat. “Pernah ada satu kasus yang kami cari-cari tidak ketemu, ternyata (sumbernya) dari tukang sayur yang tiap hari ibunya belanja di situ dan anaknya ikut,” ungkap Endang. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita