Penutupan Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY, Kemajuan DIY Tak Bisa Dilepaskan dari Akar Budayanya

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 01:23 WIB
Penutupan Memetri Keistimewaan di Teras Malioboro
Penutupan Memetri Keistimewaan di Teras Malioboro

 

 

JOGJA - Rangkaian Memetri Kaistimewan memperingati 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) resmi ditutup dengan membunyikan kitiran di Teras Malioboro Beskalan, Kota Jogja, Sabtu (12/9). Selama rangkaian berlangsung, kegiatan keistimewaan dikemas melalui agenda budaya, edukasi, pertunjukan seni hingga layanan publik.

 

Paniradya Pati Kaistimewan DIY Kurniawan mengatakan, rangkaian Memetri Kaistimewan tahun ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemaknaan keistimewaan. Tema Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad digunakan sebagai pijakan untuk melihat hubungan antara nilai luhur, kesejahteraan masyarakat, serta keberlanjutan identitas budaya Jogja.

 

Menurut dia, mulyaning manah mengingatkan untuk membangun kehidupan yang berangkat dari nilai luhur dan kebaikan. Mukti ing bumi menyalakan optimisme agar keistimewaan bisa menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan yang nyata di bumi Jogja. "Wibawaning jagad jadi kompas untuk terus menjaga jati diri dan budaya agar DIY tetap berwibawa di tengah arus perubahan zaman," kata Kurniawan.

Baca Juga: Melihat Peluang Bisnis Cuci Stroller di Jogja, Berawal dari Minta Tolong, Kini Jadi Spesialis

Kurniawan menyebut rangkaian kegiatan berlangsung selama sekitar 30 hari dan menjangkau seluruh kabupaten/kota hingga tingkat kalurahan di DIY. Pembukaan digelar di Lapangan Paseban, Bantul, pada 15 Agustus, kemudian puncak kegiatan di Bale Budaya Tamanmartani, Sleman, pada 31 Agustus, sebelum ditutup di Teras Malioboro Beskalan.

 

Lebih dari 200 kegiatan digelar dalam rangkaian tersebut. Sebelumnya, Pemda DIY menyebut terdapat 298 agenda yang melibatkan berbagai unsur, mulai pemerintah daerah, kalurahan, komunitas budaya, dunia pendidikan hingga masyarakat.

 

Pada penutupan, pendekatan tersebut kembali terlihat melalui sejumlah kegiatan yang menyandingkan kebudayaan dengan aktivitas masyarakat. Pelajar dilibatkan dalam workshop mewiru jarik, membuat dluwang dan wayang suket. Sementara panggung musik menghadirkan beragam genre, termasuk penampilan dari penyandang disabilitas.

Baca Juga: PSIM Jogja Kembali ke GBT Lawan Persebaya Surabaya dengan Misi Ulangi Memori Musim Lalu

Sejumlah layanan publik juga dibuka. Seperti perpustakaan keliling, pajak keliling, skrining kesehatan jiwa, pemeriksaan gula darah, gizi dan tekanan darah, konsultasi psikologi, layanan HIV, edukasi aksara Jawa serta layanan VR tata ruang. Konsep itu dirancang agar Memetri Kaistimewan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi mendekatkan nilai keistimewaan kepada masyarakat.

 

Kurniawan menilai keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah dan masyarakat menjadi modal penting setelah rangkaian peringatan selesai. Menurutnya, keberlanjutan keistimewaan justru diuji setelah agenda perayaan berakhir.

 

"Berakhirnya rangkaian Memetri Keistimewaan ini bukan berarti usai upaya kita merawat keistimewaan. Justru ini titik bagi kita menguatkan langkah kita, mempererat sinergi, dan membawa semangat memetri ke dalam realitas kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Baca Juga: Di Kandang Sendiri PSS Sleman Dikalahkan oleh Gol “David Beckham”

Ia menegaskan, kolaborasi yang ditampilkan selama rangkaian tidak semata-mata menjadi bagian dari penyelenggaraan acara. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat menjadi pola berkelanjutan dalam menjalankan urusan keistimewaan.

 

"Penutupan ini bukan hanya seremonial, seluruhnya bersatu padu menampilkan hasil kerja dan dedikasi layanan keistimewaan. Kolaborasi yang sinergis ini fondasi esensial yang akan terus menjaga denyut nadi dan keberlanjutan Keistimewaan DIY," katanya.

 

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada malam penutupan. Dalam sambutan tersebut, Made menempatkan keistimewaan sebagai warisan sejarah yang sekaligus mengandung tanggung jawab untuk menghadapi perubahan zaman.

Baca Juga: Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Krisnadi Dorong Perubahan Paradigma Pariwisata Sumbu Filosofi

Menurutnya, kemajuan Jogja tidak semestinya dilepaskan dari akar budaya. Keistimewaan perlu dijaga dengan kesadaran terhadap asal-usul dan nilai budaya, sekaligus kewaspadaan terhadap perubahan yang berlangsung cepat.

 

"Keistimewaan DIY ini amanah sejarah sekaligus tanggung jawab masa depan. Ia perlu dijaga dengan eling lan waspada. Eling pada asal-usul, nilai, dan martabat budaya. Waspada terhadap perubahan zaman yang bergerak cepat," demikian sambutan Sultan yang dibacakan Ni Made.

 

Ia juga menekankan agar semangat yang muncul selama rangkaian Memetri Kaistimewan tidak berhenti ketika kegiatan resmi berakhir. Nilai keistimewaan diharapkan diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

 

"Semoga kebersamaan yang telah terbangun tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus berlanjut dalam kebijakan, karya, pelayanan, dan perilaku sehari-hari," paparnya. (iza/pra)

Editor : Heru Pratomo
Paniradya Kaistimewaan DIY kitiran Memetri Kaistimewan Ni Made Dwipanti Indrayanti UUK DIY