JOGJA - Perjalanan 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta bukan sekadar angka. Dalam media gathering di Omah Dhuwur Dining & Coffee, Kamis (11/9/2026), Kepala Paniradya Kaistimewan DIY (Paniradya Pati), Kurniawan, menegaskan bahwa tajuk Memetri Kaistimewan menjadi ruang merawat, menjaga, dan menghidupkan nilai yang dianggap berharga.
Menurut Kurniawan, Memetri Kaistimewan bukan hanya peringatan usia undang-undang. Ia menjadi ajakan untuk kembali melihat bagaimana keistimewaan tumbuh di kehidupan warga Yogyakarta—bukan cuma dalam kebijakan, tetapi juga budaya, pengetahuan, dan keseharian yang mengalir dari generasi ke generasi.
Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian Urusan Keistimewaan, Andreas Bayu Nugroho, menambahkan bahwa tema “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad” menjadi pengingat penting. Keistimewaan perlu bermuara pada hidup yang lebih baik, diwujudkan lewat perilaku, karya, pembangunan yang bermanfaat, serta kontribusi bersama bagi Yogyakarta.
Baik Kurniawan maupun Andreas sepakat bahwa keistimewaan adalah kerja bersama. Pemerintah menyiapkan kebijakan, pelayanan, dan program. Masyarakat, komunitas, pelaku budaya, pelaku usaha, akademisi, hingga generasi muda ikut menjaga agar keistimewaan tetap hidup, relevan, dan dirasakan manfaatnya.
Pembukaan di Lapangan Paseban, Bantul, Sabtu (15/8/2026), menghadirkan peringatan yang dekat dengan warga. Jathilan dan Toneel Kaistimewan menampilkan keberagaman kabupaten/kota DIY, diselingi senam lansia yang hangat, terbuka, dan penuh kebersamaan.
Baca Juga: Lansia Dilaporkan Hilang, Dua Hari Kemudian Ditemukan Meninggal di Sungai Opak
Teknologi juga hadir lewat VR Tata Ruang. Pengalaman interaktif ini mempertemukan pengetahuan tata ruang dengan keistimewaan. Ada pula Workshop Bahasa Isyarat Indonesia, Mewiru Jarik, Membuat Dluwang, dan klinik aksara yang membuka ruang belajar bagi banyak orang.
Layanan masyarakat turut dibuka: kependudukan, literasi, kesehatan, dan UMKM. Kehadiran UMKM diharapkan menggerakkan ekonomi sekitar, bukan sekadar melengkapi acara. Warga pun bisa merasakan langsung bahwa keistimewaan hadir dalam layanan sehari-hari.
Puncak di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026), menjadi ruang refleksi 14 tahun. Kenduri Kaistimewan menghadirkan Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana yang mempererat kebersamaan.
Penutupan di Teras Malioboro Beskalan, Sabtu (12/9/2026), mengajak warga belajar lagi. Workshop Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang mempertemukan pengetahuan tradisional dengan masyarakat secara terbuka dan partisipatif.
Baca Juga: Warga Gunungkidul Bisa Curhat Gratis di Puskesmas, Dinkes Dorong Sosialisasi Layanan Kesehatan Jiwa
Swaraning Kaistimewan mengekspresikan keberagaman lewat musik: pop, keroncong, reggae, band religi, hingga musik disabilitas. Peserta dari kabupaten/kota se-DIY, lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas, menunjukkan keistimewaan sebagai ruang inklusif.
Penutupan simbolik dilakukan dengan membunyikan otok-otok bersama. Bunyi sederhana itu menandai berakhirnya rangkaian, sekaligus mengingatkan bahwa merawat keistimewaan tidak berhenti di acara, melainkan terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, Kurniawan dan Andreas berharap keistimewaan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kebudayaan berjalan bersama pengetahuan, ekonomi, pelayanan publik, pertanahan, dan tata ruang. Terima kasih untuk OPD, Pemda, komunitas, UMKM, seniman, akademisi, media, masyarakat, dan LPS. Semoga Yogyakarta tetap berakar budaya dan mampu menjawab tantangan masa depan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja