JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono X menyoroti proses pengolahan makanan dalam program MBG, menyusul kasus keracunan di Sleman. Menurutnya, pengelola harus benar-benar memastikan kualitas bahan baku serta cara penyimpanan sebelum makanan dibagikan kepada penerima manfaat.
HB X menilai, bahan makanan seperti daging dan ikan memiliki risiko tinggi apabila tidak disimpan dengan baik. Terlebih jika pengelola menyiapkan stok dalam jumlah banyak untuk kebutuhan beberapa hari.
"Bagi yang punya kewajiban untuk menyiapkan makanan, ya hati-hati. Dilihat betul sebelum memasak. Entah sayur, daging, ikan, dan sebagainya, itu betul-betul dilihat," katanya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Selasa (8/9).
Dia mencontohkan, daging maupun ikan yang akan digunakan untuk memasak seharusnya disimpan di tempat pendingin yang memenuhi syarat.
Jika kebutuhan bahan makanan mencapai puluhan kilogram, kapasitas freezer maupun kulkas juga harus disesuaikan. "Harusnya menyediakan stok tiga hari. Misalnya 10 kg harus dimasukkan freezer,” ujarnya.
Baca Juga: 53 Siswa dan Guru SDN 1 Sumberagung Bantul Keracunan MBG, Diduga dari Menu Bistik Galantin
Menurut HB X, persoalan dapat muncul apabila kapasitas pendingin tidak mencukupi. Bahan makanan akhirnya diletakkan di luar dan kualitasnya menurun sebelum diolah. “Akhirnya hari berikutnya sudah warna biru, tidak layak dimakan, ya pasti keracunan,” jelasnya.
Selain bahan baku, HB X juga mengingatkan waktu memasak hingga makanan dikonsumsi. Dia menilai makanan tertentu, terutama sayuran yang menggunakan santan atau berkuah, memiliki risiko apabila terlalu lama dibiarkan sebelum dikonsumsi.
"Saya khawatir kalau sayur itu karena bisa ditinggal. Masa awal masaknya pukul 02.30, dimakan jam 08.00, berarti sudah basi,” tuturnya.
Karena itu, menurutnya, pengelola perlu memperhitungkan jenis makanan, waktu memasak, jumlah porsi, hingga jarak antara makanan selesai dimasak dan waktu dikonsumsi.
HB X menegaskan, kejadian keracunan itu bukan berarti program MBG harus dihentikan. Dia menilai persoalannya lebih pada kelalaian dalam menjalankan prosedur keamanan pangan.
"Kalau saya, asal bisa menangani dengan baik sebetulnya tidak perlu distop. Saya yakin keracunan tidak disengaja, tapi teledor saja,” katanya.
Baca Juga: Ratusan Ibu-Ibu di Jogja Long March sambil Pukul Panci, Desak Pemerintah Hentikan Program MBG
Sementara itu, Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, Pemprov DIY terus memantau perkembangan kasus dugaan keracunan MBG di Sleman. Berdasarkan laporan terakhir, total sekitar 70 orang yang mendapatkan penanganan. "Besok kami pukul 11.00 ada koordinasi rutin terkait dengan ini,” ungkapnya.
Dalam koordinasi itu, Pemprov DIY akan meminta penjelasan dari SPPG mengenai penyebab kejadian keracunan MBG kembali terjadi. Padahal, menurut Made, prosedur pelaksanaan MBG sebelumnya telah berkali-kali ditekankan.
Evaluasi tidak hanya menyangkut keamanan pangan. Pemprov juga akan menyoroti kecukupan tenaga ahli gizi, kandungan gizi untuk masing-masing kelompok penerima, hingga proses pengemasan, dan distribusi makanan.
"Penjangkau makanan itu sesuai prosedur nggak. Ketika kemudian nge-pack makanan dan lain-lain,” jelasnya. Termasuk kualitas bahan baku sebelum diolah menjadi makanan siap konsumsi.
Baca Juga: Korban MBG Makin Berjatuhan, Suara Ibu Indonesia Ajak Aksi Jalan Sore Pukul Panci
Menurutnya, tahapan ini menjadi salah satu hal penting yang perlu dipastikan dalam evaluasi. "Dari bahan baku menjadi bahan jadi, apakah bahan bakunya itu benar-benar diyakinkan kualitasnya terjaga. Seperti itu bisa dikonsumsi dengan baik atau tidak,” tambahnya.
Terkait kemungkinan penghentian program MBG seperti yang dilakukan di Malang, Made mengatakan Pemprov DIY belum mengambil langkah sejauh itu. Pihaknya masih menunggu hasil evaluasi dan memastikan terlebih dahulu apakah seluruh prosedur dapat dijalankan secara konsisten di lapangan.
Dia menegaskan, Pemprov DIY akan mendukung pelaksanaan MBG sepanjang penyelenggara mampu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. "Persoalannya ketika implementasi di lapangan berbeda dengan hasil yang dirapatkan, ini yang akan kita pertanyakan," tegasnya. (cin/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja