JOGJA - Ratusan ibu-ibu di DIJ menggelar aksi jalan sore sambil memukul panci dengan rute dari Tugu Golong Gilig hingga Bundaran UGM, Selasa (8/9). Para peserta membawa spanduk berisi protes mengenai program makan bergizi gratis (MBG) serta membawa panci dan sutil yang dibunyikan sepanjang perjalanan.
Aktivis Suara Ibu Indonesia DIJ Kalis Mardiasih menyebut, ada tiga tuntutan dalam aksi itu. Pertama, menghentikan program MBG dan mengalihkan anggarannya untuk mitigasi serta penanganan bencana hingga tuntas. Menurutnya, pendidikan dan kesehatan juga seharusnya menjadi sektor prioritas dalam alokasi anggaran negara.
"Program MBG telah terbukti menimbulkan korban keracunan massal dalam jumlah yang terus bertambah setiap tahunnya," katanya saat ditemui di lokasi aksi.
Baca Juga: Sanksi Pidana Menanti SPPG, Jika Lalai Sajikan MBG dan Jadi Penyebab Keracunan
Menurutnya, korban keracunan akibat MBG belum mendapatkan pertanggungjawaban hukum yang jelas dari pihak-pihak yang terlibat. Di sisi lain, rentetan bencana seperti gempa Flores, karhutla di Sumatera dan Kalimantan, banjir, tanah longsor, serta ancaman erupsi gunung api di berbagai wilayah masih membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
"Kami mendesak pemerintah menghentikan program MBG dan mengevaluasi total tata kelolanya," pintanya. Selain itu, mengalihkan anggarannya untuk memperkuat mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan pemulihan korban bencana secara tuntas bukan sekadar tanggap darurat sesaat.
Tuntutan kedua, menghentikan segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat sipil. Warga yang menyuarakan kritik dan protes atas kebijakan pemerintah, termasuk terkait kasus keracunan MBG, harus dijamin keselamatannya.
"Kami menolak segala bentuk tindakan represif, intimidasi, maupun pembungkaman terhadap suara-suara kritis masyarakat," katanya.
Tuntutan ketiga, menghentikan upaya membenturkan konflik horizontal sebagai alat untuk meredam protes masyarakat. Mereka menolak segala bentuk politik adu domba yang sengaja diciptakan untuk memecah solidaritas warga dan mengalihkan perhatian publik dari akar persoalan sesungguhnya.
"Yakni buruknya tata kelola program pemerintah yang mengorbankan keselamatan rakyat," tuturnya.
Dia mengatakan, aksi pukul panci dilakukan dengan suara nyaring agar pemerintah mendengar aspirasi masyarakat. "Kalau jalan dari Tugu Golong Gilig ke Bundaran UGM artinya biar sehat saja. Jadi ini kardio bersama," jelasnya.
Jika Presiden Prabowo Subianto masih melanjutkan program MBG, dia menilai pemerintah tidak tahu malu dan tidak kompeten dalam menjalankan proyek itu yang dinilainya telah menyebabkan lebih dari 43 ribu korban keracunan MBG.
Sementara itu, salah seorang peserta aksi yang merupakan mahasiswi UGM Misye Qiera Prameswari, 18, mengaku, tertarik mengikuti aksi ini karena dirinya merupakan perempuan dan merasa kelak akan menjadi seorang ibu. Dia tidak ingin anaknya merasakan kebobrokan negara yang saat ini dialaminya.
Baca Juga: 45 Siswa di Turi Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Sampel Makanan Diperiksa di Laboratorium
"Kalau tadi saya menyuarakan yang pertama tolak MBG dan menggantikan dananya untuk penanganan bencana, serta kembalikan dana MBG untuk pendidikan,” ungkapnya.
Sebagai mahasiswi, dia mengaku merasakan biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang semakin mahal. Selain itu, beasiswa saat ini juga semakin dipangkas, salah satunya Beasiswa Unggulan. Menurutnya, pendaftaran Beasiswa Unggulan diperpendek, dari yang awalnya dua minggu menjadi empat hari dengan alasan efisiensi waktu dan dana.
Menurutnya, adanya MBG juga berdampak pada hadiah perlombaan yang diikutinya. Salah satunya adalah hadiah lomba OSN. "Kemarin dipotong dari yang belasan juta jadi cuma Rp 4 juta," keluhnya. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka NovaritaSumber : Radar Jogja