JOGJA - Fenomena orang tua (ortu) yang rela mengantre sejak subuh untuk mendaftarkan anaknya ke bimbingan belajar (bimbel) Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, disambut positif Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY. Hal tersebut dinilai sebagai modal sosial yang positif.
Kepala Disdikpora DIY Raden Suci Rohmadi menilai, antusiasme orang tua terhadap pendidikan anak merupakan hal positif. Kondisi tersebut menunjukkan pendidikan masih ditempatkan masyarakat sebagai investasi penting untuk masa depan anak.
“Termasuk ketika orang tua memilih bimbingan belajar sebagai bagian dari persiapan anak,” katanya, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Anak Kerap Haus, Berat Badan Turun Signifikan: Kesaksian Lanjutan Ortu Anak Korban Kekerasan Daycare
Suci menjelaskan, pilihan bimbel untuk anak merupakan pilihan masing-masing keluarga dan menghargainya. Namun, dia menekankan pentingnya prioritas untuk anak. Sebab, pendidikan anak sejatinya tidak hanya soal nilai akademik atau diterima di sekolah tertentu.
“Yang perlu dijaga adalah jangan sampai persiapan masuk sekolah justru membuat anak mengalami tekanan yang berlebihan,” ujarnya.
Menurutnya, aspek pendidikan karakter dinilai penting. Seperti kemandirian, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan bagaimana anak merasa nyaman serta berkembang dalam proses belajarnya. Pihaknya memahami masyarakat memiliki preferensi terhadap sekolah tertentu. Hal tersebut dianggap wajar. Namun, dari sisi pemerintah, pihaknya terus berupaya agar kualitas pendidikan semakin merata.
Baca Juga: Usai Melepas Atlet Popda Kebumen dengan Bus Engkel, Bupati Lilis Minta Maaf
“Jadi masyarakat memiliki semakin banyak pilihan sekolah yang baik, tidak hanya tertuju pada beberapa sekolah saja,” terangnya.
Dia berharap dalam memilih sekolah orang tua lebih melihat kesesuaian dengan potensi, minat, bakat, dan kebutuhan anak. Jangan sampai anak merasa saat masuk ke sekolah tertentu adalah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Mengenai fenomena ini, kata dia, hal itu menjadi catatan untuk memastikan antusiasme masyarakat tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas dan pemerataan mutu pendidikan. Sehingga setiap anak mempunyai kesempatan berkembang optimal di sekolah mana pun. “Jadi kalau ditanya bagaimana kami melihat fenomena ini, saya melihatnya sebagai modal sosial yang positif,” tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita