JOGJA – Geliat literasi kembali terasa di Yogyakarta. Jogja Book Fair (JBF) 2026 resmi dibuka di Halaman Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Sabtu (29/8). Kegiatan yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) ini turut melibatkan sebanyak 119 penerbit besar maupun indie hingga 8 September 2026.
JBF 2026 tak hanya menghadirkan pasar buku. Pengunjung juga bisa menikmati Pameran Arsip, Pameran Cover Buku, dan Pasar Kuliner. Selain 119 penerbit, kegiatan ini melibatkan 20 tenant UMKM dan memamerkan 45 arsip.
Pantauan Radar Jogja, Halaman Grhatama DPAD DIY mulai dipadati pengunjung sejak sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Ratusan warga, pelajar, dan pegiat literasi mendatangi stan-stan penerbit dan pameran.
Baca Juga: PSIM Jogja Unggul 2-0 Atas Deltras Sidoarjo di Momen Launching Tim
Suasana semakin ramai ketika sore beranjak senja. Aktivitas pengunjung di antara stan buku dan pameran menghadirkan atmosfer literasi yang khas Yogyakarta.
Salah satu penerbit yang ambil bagian adalah Penerbit Suku Sastra. Perwakilannya, Fairuzul Mumtaz, menyebut JBF 2026 sebagai salah satu panggung perbukuan terbesar di Yogyakarta saat ini.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat JBF menjadi momentum penting bagi penerbit dan pelaku industri kreatif berbasis literasi.
"JBF itu ibaratnya pasar terbesar kita hari ini di Jogja untuk perbukuan. Tentu saja ini kesempatan menarik bagi para penerbit untuk bergabung. Sebagaimana penerbit yang lain, kita melihat celah itu sangat worth it," kata Fairuzul, Sabtu (29/8).
Baca Juga: Ada Gerakan Aerobik dan Kardio, Dance Jadi Gaya Baru Anak Muda Berolahraga
Fairuzul mengatakan, Suku Sastra sebelumnya sudah beberapa kali mengikuti pameran yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Namun, keikutsertaan di JBF 2026 menjadi pengalaman perdana bagi pihaknya.
Ia menilai JBF memiliki daya tarik tersendiri karena menjadi salah satu event perbukuan terbesar IKAPI di Yogyakarta.
"Di antara yang lain, kalau kami lihat dari penerbit lain, JBF ini yang paling worth it untuk diikuti karena memang event terbesarnya IKAPI di Jogja," ujarnya.
Fairuzul juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY melalui Dana Keistimewaan. Menurutnya, dukungan tersebut membantu menekan biaya yang harus dikeluarkan penerbit untuk mengikuti pameran.
"Ini bentuk perhatian dari pemerintah, sehingga bagi penerbit tidak harus keluar uang dulu untuk jualan," ucapnya.
Selain menguntungkan secara ekonomi bagi penerbit, lanjutnya, event ini juga menggerakkan masyarakat dalam menumbuhkan minat baca.
Ia membandingkan skema tersebut dengan penyelenggaraan pameran buku di sejumlah daerah lain, termasuk Jakarta. Menurut Fairuzul, penerbit di daerah lain masih kerap harus mengeluarkan biaya untuk menyewa stan.
Baca Juga: Hadapi Tren Promo Gen Z dan Food Waste, ESB Tawarkan Solusi Digital Berbasis Data di JIFHEX Jogja
"Saling support antar-OPD, komunitas, dan penerbit ini corak khas DIY yang sulit ditemukan di kota lain. Harapannya tradisi merangkul banyak pihak seperti ini terus diteruskan," katanya.
Antusiasme terhadap JBF 2026 juga terlihat dari kalangan pelajar. Syakira Bikamalina, siswi SMP Qurota A'yun asal Berbah, mengaku terkesan saat pertama kali mengunjungi JBF. Dia berharap gelaran pasar buku seperti JBF dapat terus digelar setiap tahun.
"Karena membaca buku itu sangat penting," tandasnya. (ayu)
Editor : Sevtia Eka Novarita