JOGJA - Prevalensi stunting di DIY berhasil dipertahankan di bawah 10 persen. Berdasarkan catatan rutin Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, angka stunting pada 2025 berada di level 9,68 persen. Agar tidak kembali meningkat, upaya pencegahan kini diperkuat dari hulu. Bahkan sejak remaja putri sebelum memasuki masa kehamilan.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, mempertahankan angka stunting tetap rendah membutuhkan intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan. Penanganannya juga tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan karena stunting berkaitan dengan berbagai persoalan sosial dan lingkungan. “Intervensi yang bisa kita lakukan adalah intervensi spesifik dan intervensi sensitif,” kata Anung Selasa (25/8).
Baca Juga: Usung Sleman Style, Pieter Huistra Ingin Lawan Beradaptasi dengan Gaya Bermain PSS Sleman
Menurut dia, intervensi sensitif perlu mendapat perhatian lebih besar karena mencakup berbagai faktor yang secara tidak langsung memengaruhi terjadinya stunting. Di antaranya kemiskinan, akses terhadap air bersih, hingga ketersediaan pangan. Persoalan tersebut membutuhkan penanganan lintas sektor.
Sementara intervensi spesifik lebih berfokus pada persoalan kesehatan dan gizi. Upaya ini terutama dilakukan selama periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Baca Juga: Mahasiswa Kedepankan Gerakan Intelektual, Tak Mau Terjebak Aksi Provokatif Akhir Agustus
Pada ibu hamil, pelayanan kesehatan dilakukan sesuai standar, termasuk pemantauan status gizi. Ibu hamil juga diberikan tablet tambah darah maupun suplemen gizi apabila ditemukan persoalan atau risiko kekurangan gizi.
Setelah bayi lahir, pertumbuhan anak terus dipantau. Berat badan, tinggi badan, dan panjang badan diperiksa secara berkala. Jika ditemukan gangguan pertumbuhan maupun persoalan gizi, anak akan mendapatkan intervensi sesuai kebutuhannya. “Bahkan masuk ke anak-anak usia sekolah dan remaja, pun demikian,” tuturnya.
Anung menjelaskan, penyebab stunting cukup beragam. Penyakit seperti diare dan infeksi berat dapat berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan anak. Namun, kasus stunting yang berkaitan langsung dengan penyakit relatif kecil.
Baca Juga: Dua Iklan Rokok di Jalan Protokol Disegel, Satpol PP Jogja: Ditutup sampai Konten Diturunkan
Karena itu, edukasi kepada keluarga menjadi bagian penting dalam pencegahan. Pada bayi, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan terus ditekankan. Setelah itu, orang tua perlu memperhatikan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai kebutuhan gizi anak.
“Kadang kala memang pola asuh berpengaruh, termasuk bagaimana orang tua memberikan makanan kepada anak tersebut,” ujarnya.
Ketersediaan pangan keluarga juga menjadi perhatian. Jika asupan protein, terutama bagi anak dan ibu hamil dinilai belum mencukupi, pemerintah dapat memberikan pemberian makanan tambahan (PMT) dengan takaran yang disesuaikan kebutuhan gizi.
Anung menilai pencegahan tidak boleh dimulai ketika seorang perempuan sudah hamil. Upaya tersebut perlu dilakukan sejak remaja, khususnya dalam memastikan remaja putri memiliki status gizi yang baik.
Baca Juga: Air Bersih 15 Ribu Liter Per Hari untuk 1.000 Penyintas Gempa Nagekeo, NTT Disalurkan Selama 60 Hari
Remaja putri tetap diperbolehkan melakukan diet, tetapi harus menerapkan prinsip gizi seimbang. Konsumsi tablet tambah darah juga perlu diperhatikan untuk mencegah anemia.
Program pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di sekolah telah berjalan cukup lama. Namun, kepatuhan dalam mengonsumsi tablet tersebut masih menjadi tantangan. “Kadang kala diberikan tablet tambah darah, tapi tidak dikonsumsi,” katanya.
Anemia pada remaja putri dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan ketika memasuki masa kehamilan. Karena itu, konsumsi tablet tambah darah sesuai aturan menjadi salah satu upaya pencegahan stunting yang dilakukan dari hulu.
Sementara bagi ibu hamil, Anung mengimbau agar pemeriksaan kehamilan dilakukan secara rutin. Ibu hamil dianjurkan memeriksakan kehamilan ke fasilitas pelayanan kesehatan minimal enam kali selama masa kehamilan.
Selain itu, konsumsi tablet tambah darah atau suplemen gizi juga perlu diperhatikan. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi sedikitnya 180 tablet selama masa kehamilan. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita