JOGJA - Ancaman kemarau panjang di DIY berpotensi semakin berat akibat kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Jika keduanya berkembang bersamaan, curah hujan dapat semakin berkurang dan periode kering berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan El Nino 2026 berpeluang berkembang menjadi kategori kuat. Bahkan, peluang meningkat menjadi kategori amat kuat disebut mencapai 75 persen pada periode Agustus hingga Oktober.
Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM Emilya Nurjani mengatakan, El Nino dan IOD positif merupakan fenomena iklim berskala regional hingga global yang memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia. Keduanya berkaitan dengan perubahan suhu muka laut, tetapi terjadi di wilayah berbeda.
El Nino berkaitan dengan kondisi suhu muka laut di wilayah Pasifik tropis. Sedangkan IOD positif berkaitan dengan perbedaan suhu muka laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia. "Kedua fenomena ini memberi dampak berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia," jelasnya Selasa (11/8).
Baca Juga: Ketinggian Air Sungai Winongo Terdeteksi Menurun, BPBD Kota Jogja Wanti-Wanti Fenomena Sumur Asat
Menurutnya, DIY perlu memberi perhatian khusus terhadap kondisi tersebut. Karena sebagian wilayah Pulau Jawa memiliki karakter iklim monsoonal, dengan perbedaan musim hujan dan kemarau yang relatif tegas.
Namun, dampak El Nino tidak akan seragam di seluruh wilayah. Karakteristik wilayah, mulai dari lokasi, pola monsun, topografi, bentuk lahan, kondisi hidrologis hingga geologis, turut menentukan tingkat risiko kekeringan. "El Nino Godzilla sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai fenomena iklim ekstrem, tapi juga alarm untuk melihat bagaimana setiap wilayah memiliki tingkat risiko dan kapasitas adaptasi yang berbeda," tegasnya.
Karena itu, ancaman kekeringan di DIY tidak cukup dilihat dari lamanya hujan tidak turun. Kondisi sumber air, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, serta ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian juga menentukan tingkat kerentanan setiap wilayah.
Baca Juga: Bantul Konser 2026 di Stadion Sultan Agung Sisakan Dua Ton Sampah
Emilya menyebut wilayah dengan karakter monsoonal memiliki risiko lebih besar ketika periode kering bertambah panjang. Karakter tersebut terdapat di sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, serta wilayah selatan Indonesia.
Di DIY, ketersediaan air juga dipengaruhi kondisi geologi. Hal tersebut terutama perlu diperhatikan di kawasan dengan karakter karst seperti sebagian wilayah Gunungkidul. Kemampuan kawasan karst dalam menyimpan air berbeda dengan wilayah yang memiliki kondisi geologi lebih mendukung keberadaan air tanah.
"Wilayah monsoonal dan karst memiliki dampak terhadap ketersediaan air dan pertanian jika mengalami penambahan periode kering," tuturnya.
Tekanan terhadap ketersediaan air juga berpotensi meningkat di kawasan perkotaan maupun wilayah pertanian intensif. Ketika cadangan air menurun, kebutuhan domestik masyarakat harus berhadapan dengan kebutuhan air untuk pertanian dan aktivitas ekonomi lainnya.
Menurut Emilya, pemerintah perlu melihat ancaman kekeringan berdasarkan karakter masing-masing wilayah. Informasi kepada masyarakat juga tidak cukup sebatas peringatan bahwa kekeringan akan terjadi.
Baca Juga: Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Ingin Bangun Tim yang Kompetitif
Pemerintah perlu memberikan gambaran mengenai wilayah yang paling rentan, kelompok masyarakat yang berpotensi terdampak, proses terjadinya kekeringan, hingga sumber daya yang dapat digunakan untuk mengurangi risikonya.
Sebab, dampak kemarau panjang dapat memicu persoalan berantai apabila berlangsung cukup lama. Berkurangnya curah hujan dapat menurunkan ketersediaan air irigasi, mengganggu pola tanam, menurunkan produktivitas pertanian, meningkatkan risiko gagal panen, hingga menekan ketersediaan air domestik.
"Bila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, persoalan yang awalnya berkaitan dengan cuaca dan iklim dapat berkembang menjadi persoalan sosial, ekonomi, hingga ketahanan wilayah," pesannya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita