RADAR JOGJA - Bediding, fenomena cuaca ekstrem saat musim kemarau di Jogja.
Sebenarnya membawa dua ancaman sekaligus dan salah satunya justru terjadi saat matahari sedang terik-teriknya.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, suhu malam hingga pagi hari di Jogja saat ini berkisar 19-21 derajat Celsius.
Tapi begitu siang tiba, suhu bisa melonjak hingga 31-32 derajat Celsius.
Rentang sejauh itu dalam sehari bukan cuma bikin tidak nyaman, tapi juga berbahaya bagi tubuh.
Baca Juga: Hasil Aston Villa vs Real Sociedad 2-4: Modal Kurang Meyakinkan Jelang Lawan Indonesia All Stars
Melansir dari healthy.or.id menjelaskan bahwa udara kering dan berdebu saat kemarau berpotensi memicu ISPA, batuk, flu, dan iritasi saluran pernapasan.
Di sisi lain, suhu tinggi siang hari meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke, terutama untuk anak-anak, lansia, dan pekerja luar ruangan.
Bukan hanya kesehatan tapi juga berdampak pada lingkungan.
Bahaya kedua adalah kebakaran.
Vegetasi kering, suhu tinggi, dan angin kencang jadi kombinasi yang membuat api mudah menyebar jikalau ada kelalaian sekecil apa pun.
Sementara BPBD Kota Yogyakarta selama fenomena bediding ini mengaktifkan Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang siaga penuh 24 jam.
Lalu, dari mana asalnya udara dingin yang membuat menggigil ini?
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas, mengungkap penyebab utamanya adalah angin muson timur dari Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke Pulau Jawa.
Langit yang cerah di malam hari juga membuat panas bumi lebih cepat lepas ke atmosfer, sehingga suhu anjlok drastis menjelang dini hari.
Prediksi tentang durasi justru berubah seiring waktu. Pertengahan Juli lalu, BMKG memperkirakan puncak dingin berlangsung sampai Agustus.
Baca Juga: Kasus Kebakaran Lahan Meningkat, BPBD Gunungkidul Perketat Pengawasan Pembakaran Sampah
Tapi update terbaru akhir Juli menyebut bediding di sejumlah wilayah bisa bertahan sampai awal September, tergantung perkembangan atmosfer.
Untuk DIY sendiri puncak kemarau diprediksi jatuh pada Agustus, dengan musim kemarau baru benar-benar berakhir dasarian pertama November untuk Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kota Jogja, dan sebagian besar Kulon Progo.
Artinya, warga Jogja masih akan bolak-balik pakai jaket tebal di pagi hari dan kipas angin di siang hari setidaknya sampai tiga bulan ke depan.
Baca Juga: KAI Daop 6 Catat 126 Ribu Wisatawan Asing Naik Kereta Api ke Jogja dan Solo pada Semester I 2026
BPBD mengimbau masyarakat tidak sekadar menahan dingin dengan pakaian hangat dan minuman hangat.
Warga juga diminta tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, dan memastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi aman.
Editor : Meitika Candra Lantiva