Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jogja Jadi 'Eropa Mini', saatnya Menikmati Romantisme Fenomena Bediding

A
Bocah menyalakan api untuk menghangatkan tubuh saat cuaca dingin, di kawasan Pandowoharjo, Sleman, Kamis malam (2/7/2026). GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
Bocah menyalakan api untuk menghangatkan tubuh saat cuaca dingin, di kawasan Pandowoharjo, Sleman, Kamis malam (2/7/2026). GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Advertisement

Jika Anda berjalan-jalan di sekitar Malioboro atau Alun-Alun Kidul pada bulan Juli- Agustus menjelang tengah malam, anda akan melihat pemandangan unik, yaitu orang-orang mulai mengenakan jaket tebal, sweter, bahkan syal. Suhu udara di Jogja yang biasanya hangat, tiba-tiba bisa anjlok hingga 18°C atau 19°C pada dini hari.

Kata bediding sendiri berasal dari bahasa Jawa bedhidhit yang berarti dingin yang menusuk. Fenomena ini murni gejala alam tahunan saat wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau.

Mengapa Jogja Jadi Dingin Saat Kemarau?

Advertisement

Secara ilmiah, dinginnya Jogja saat musim kemarau disebabkan oleh dua faktor utama, diantaranya yaitu:

1. "Angin Titipan" dari Australia

Di saat Jogja sedang kemarau, Benua Australia justru sedang mengalami puncak musim dingin. Karena perbedaan tekanan udara, berembuslah Angin Monsun Australia menuju Asia melewati jalur kepulauan Indonesia, termasuk DIY. Angin inilah yang membawa massa udara kering dan dingin ke Jogja.

2. Langit Jogja yang kehilangan "Selimut"

Di musim kemarau, uap air di udara sangat sedikit sehingga langit Jogja bersih tanpa awan (clear sky).
Siang hari, sinar matahari langsung membakar kulit tanpa penghalang awan, membuat Jogja terasa sangat gerah.
Malam hari, bumi melepaskan kembali panas yang diserapnya siang hari ke luar angkasa. Karena tidak ada awan yang berfungsi sebagai selimut untuk menahan panas tersebut, suhu permukaan bumi pun merosot tajam menjelang subuh.

Dampak bediding akan terasa jauh lebih magis jika Anda bergeser ke area dataran tinggi di Yogyakarta. Di kawasan Kaliurang (Sleman) yang berada di kaki Gunung Merapi, atau di Kebun Teh Nglinggo (Kulon Progo), suhu udara malam hari bisa menyentuh angka 14°C hingga 12°C. Udara yang bersih dikombinasikan dengan kabut tipis pagi hari membuat kawasan-kawasan ini mendadak punya vibe seperti pedesaan di Eropa. Tidak heran jika musim bediding sering kali menjadi waktu favorit bagi para pemburu sunrise di Jogja.

Menghadapi udara yang dingin kering ini, masyarakat Jogja punya kearifan lokal tersendiri untuk menghangatkan tubuh. Jika Anda sedang berada di Jogja saat fenomena ini berlangsung, cobalah beberapa agenda wajib ini:

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Waspada! Suhu Panas di DIY Bisa Capai 34 Derajat Celcius, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Panas Siang Hari dan Dingin saat Malam

Waspada! Suhu Panas di DIY Bisa Capai 34 Derajat Celcius, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Panas Siang Hari dan Dingin saat Malam

BMKG Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai suhu panas selama musim kemarau. Suhu udara pada siang hari diperkirakan dapat mencapai 33–34 derajat Celcius, sementara kualitas udara juga berpotensi menurun..

Gunung Merapi Masih Siaga, BPPTKG Catat 8 Kali Guguran Lava Dini Hari

Gunung Merapi Masih Siaga, BPPTKG Catat 8 Kali Guguran Lava Dini Hari

Gunung Merapi masih berstatus Level III Siaga. BPPTKG catat 8 kali guguran lava dan 10 kali gempa hybrid dalam enam jam pengamatan dini hari ini.

Gelar Mimbar Rakyat, Masjid Jogokariyan Buka Ruang Refleksi Dua Tahun Pemerintahan

Gelar Mimbar Rakyat, Masjid Jogokariyan Buka Ruang Refleksi Dua Tahun Pemerintahan

Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta akan menggelar agenda bertajuk Mimbar Rakyat pada Selasa (10/11/2026). 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer