Ambulans: Edukasi Penggunaan Sirine hingga Penanganan Kecelakaan, Suara Bisa Jadi Patokan Pengguna Jalan

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:49 WIB
SEHAT ITU MAHAL: Ambulans memiliki kode khusus saat membawa atau menjemput pasien kegawatdaruratan yang dapat ditandai para pengguna jalan. Guntur Aga Tirtana/radar jogja
SEHAT ITU MAHAL: Ambulans memiliki kode khusus saat membawa atau menjemput pasien kegawatdaruratan yang dapat ditandai para pengguna jalan. Guntur Aga Tirtana/radar jogja

 

JOGJA - Suara ninu-ninu yang memecah keheningan jalan raya sering membuat pengguna jalan raya harus bergegas menepi. Di balik suara sirine dan lampu rotator itu, menyimpan aturan yang menyangkut nyawa manusia.

 Ambulans memiliki kode khusus saat membawa atau menjemput pasien kegawatdaruratan yang dapat ditandai pengguna jalan.

Baca Juga: Salat Subuh ke Masjid, Rumah Warga Ponjong Disatroni Maling: HP hingga Uang Tunai Raib

Ketua Rescue Ambulance Barat (RAB) Febtaris Nur Suparyanto menjelaskan, ambulans di Kulon Progo dinaungi dalam sebuah komunitas. Komunitas RAB menaungi sekitar 80-90 ambulan aktif, baik dari unsur dinas atau swasta. 

Pembentukan komunitas ini berawal dari kebutuhan ambulans saat pandemi Covid-19. "Dulu saat pandemi sangat butuh ambulans, sehingga butuh jaring komunikasi yang kuat," ucap Febta, Jumat (24/7).

Ia menjelaskan, kebutuhan ambulans saat pandemi digunakan untuk mengantar pasien Covid-19 menuju RS Sardjito Jogjakarta. Sehingga, cikal bakal komunitas akhirnya terbentuk dan diresmikan sekitar tahun 2024. 

Kini kegiatan rutin RAB masih bersifat kedaruratan. Mulai dari penjemputan pasien hingga membawa pasien ke fasilitas kesehatan, termasuk kegiatan kemanusiaan lainnya.

Baca Juga: Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata, PAN Buka Peluang Rotasi Anggota untuk Isi Komisi D DPRD Sleman

Di sisi lain, RAB rutin memperbaharui wawasan perihal operasional ambulans. Komunitas yang menaungi 200-an pengemudi ambulans itu rutin menyelenggarakan peningkatan kapasitas. 

Menurutnya, ambulans tak hanya fokus membawa pasien. Namun juga menjaga pasien tetap aman dan nyaman selama perjalanan ke fasilitas kesehatan.

Operasional ambulans selama menjemput dan mengantarkan pasien turut disorot, terutama penggunaan sirine. Penggunaan sirine tak hanya sekadar penanda kendaraan prioritas, tapi tanggung jawab besar selama di jalan raya. 

Baca Juga: ‎300 Gurami Siap Panen Digasak Maling, Petani di Wonosari Rugi Sekitar Rp 10 Juta

Terdapat empat isyarat unik penggunaan sirine yang dapat dikenali pengguna jalan. Isyarat pertama ialah hi-lo mirip seperti palang kereta api. Isyarat ini ditandai dengan bunyi sirine nada tinggi rendah secara teratur.

Jika ambulans menggunakan sirine ini, maka sedang masa penjemputan pasien gawat darurat. Sehingga pengguna jalan perlu memprioritaskan tim medis.

"Suara ninu-ninu hi-lo diharapkan agar pengguna jalan membuka jalan," ucapnya. Selain itu, terdapat juga isyarat yelp berupa suara menyalak nyaring secara cepat.

Tanda ini biasanya digunakan ambulans saat membawa pasien tidak gawat darurat. Namun pengendara disarankan untuk menepi. 

Terdapat juga bunyi sirine cepat dan nyaring sebagai penanda ambulans membawa pasien kritis dan hendak ke fasilitas kesehatan. 

Baca Juga: Wisatawan Asing Naik Kereta Meningkat 7 Persen, Stasiun Tugu Jogjakarta Tetap Jadi Gerbang Utama Turis Mancanegara

Komunitas RAB tak hanya meningkatkan kemampuan pengemudi ambulans. Kendaraan ambulans idealnya dilengkapi obat-obatan ringan. Hal ini menjadi perhatian khusus RAB.

Kemampuan pengemudi dalam penanganan pertama turut diajarkan.

Relawan turut mensosialisasikan wawasan operasional ambulans pada pengguna jalan dan masyarakat. Saat ini fokus komunitas pada pencegahan tindakan masyarakat menyelamatkan korban kecelakaan.

Saat terjadi kecelakaan dan korban tergeletak di jalan masyarakat seringkali memaksa ikut membantu membawa ke fasilitas kesehatan. Tindakan itu justru sangat fatal.

Lantaran hanya petugas medis saja yang mengetahui kondisi korban dan cara penanganannya. (gas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
insight RS Sardjito ambulance sirine Covid - 19