Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Masih Siaga, 112 Guguran Terekam dan Lava Meluncur hingga 2 Kilometer

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

Advertisement

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika. Berdasarkan pemantauan selama 24 jam pada Sabtu, 22 Agustus 2026, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih berstatus Level III atau Siaga.

Data pengamatan menunjukkan sejumlah aktivitas kegempaan terjadi sepanjang hari. Kegempaan paling banyak berupa guguran, yakni sebanyak 112 kejadian dengan amplitudo 2-39 milimeter dan durasi 14,64 hingga 197,13 detik.

Selain itu, petugas juga mencatat 71 gempa hybrid atau fase banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo 2-32 milimeter dengan durasi 7,5 hingga 55,93 detik.

Advertisement

Aktivitas lainnya terdiri atas enam gempa vulkanik dangkal serta satu gempa tektonik jauh. Kondisi tersebut menjadi bagian dari indikator yang terus dipantau untuk melihat perkembangan aktivitas Gunung Merapi.

Secara visual, Merapi terpantau jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-II sampai 0-III. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih juga terlihat cukup tebal. Ketinggiannya berkisar 50 hingga 200 meter di atas puncak kawah.

Advertisement

Yang perlu menjadi perhatian, petugas mengamati dua kali guguran lava menuju arah Kali Sat/Putih. Jarak luncur maksimum guguran lava tersebut mencapai 2.000 meter.

Kondisi cuaca di sekitar Merapi pada periode pengamatan cenderung berawan dan mendung. Angin bertiup tenang ke arah barat. Suhu udara tercatat antara 15,2 hingga 27 derajat Celsius, dengan kelembapan mencapai 60-99,9 persen.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut suplai magma ke dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awanpanas guguran di wilayah yang masuk zona bahaya.

Potensi bahaya guguran lava dan awanpanas berada terutama di sektor selatan-barat daya. Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi alur Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tiyasan Bersiap Naik Kelas Menjadi Ekosistem Ekonomi Kreatif Baru di Sleman

Tiyasan Bersiap Naik Kelas Menjadi Ekosistem Ekonomi Kreatif Baru di Sleman

Kawasan Tiyasan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, berpeluang berkembang menjadi salah satu ekosistem ekonomi kreatif baru di wilayah Yogyakarta bagian utara. Pertumbuhan usaha kuliner, kafe, UMKM, serta aktivitas masyarakat.

Sampah Dapur dan Kotoran Ternak di Sleman Kini Bisa Disulap Jadi Pupuk Bernilai Jual, Begini Caranya

Sampah Dapur dan Kotoran Ternak di Sleman Kini Bisa Disulap Jadi Pupuk Bernilai Jual, Begini Caranya

Kelompok Wanita Tani di Moyudan, Sleman, dilatih UPN Veteran Yogyakarta mengolah limbah dapur dan kotoran ternak menjadi pupuk hayati bernilai ekonomi. Pelatihan ini mendukung pertanian berkelanjutan.

Peringati Kemerdekaan, Warga Sleman Diajak Fun Walk Gratis Sepanjang Tiga Kilometer

Peringati Kemerdekaan, Warga Sleman Diajak Fun Walk Gratis Sepanjang Tiga Kilometer

Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Sleman dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Ribuan warga diajak berolahraga bersama melalui Sleman Merdeka Fun Walk di Lapangan Pemda Sleman Jumat (21/8).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer