JOGJA - Ambulans adalah kendaraan prioritas dan wajib diberi jalan karena membawa pasien yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Agar nantinya tidak terjadi keterlambatan dalam perjalanan yang bisa berakibat fatal bagi keselamatan nyawa. Tingkat kegawatdaruratan ini bisa diketahui para pengendara lewat kode sirine dari ambulans.
Sopir ambulans Budi Prayitno mengaku, untuk saat ini sebenarnya sudah jarang mengalami kesulitan di jalan raya karena masyarakat sudah sadar untuk menyingkir saat ambulans lewat.
Tak jarang ada pengendara motor yang menjadi relawan untuk membantu membuka jalan meski dia tidak mengenalinya.
"Biasanya pakai motor buat membantu menembus jalan kalau ada kemacetan," katanya ditemui saat menunggu pasien yang tengah dirawat di RSUP Dr Sardjito, Kamis (23/7).
Pilihannya untuk menjadi sopir ambulans sendiri memang didasarkan, karena prinsipnya yang mementingkan jiwa relawan dan sudah dijalani selama lima tahun terakhir.
Hari ini dia mengaku mengantar pasien katarak yang matanya sudah diambil dan kini harus melakukan kontrol.
"Saya ini dari Magelang, karena tidak ada panggilan jadi saya nunggu sampai selesai. Kalau ada panggilan, ya pergi dulu lalu menjemput," ujarnya.
Pria 54 tahun ini mengaku, masyarakat bisa mengetahui tingkat kegawatdaruratan lewat sirine yang memiliki bunyi berbeda.
Semakin jeda bunyinya rapat berai semakin gawat, seperti yang pernah dia antar saat mendapat pasien kasus jantung atau sesak nafas.
Kondisi pasien ini juga yang akan jadi pertimbangan sopir untuk menentukan laju kecepatan kendaraan. Hanya saja ketika tidak dalam kondisi gawat darurat, ambulans tidak perlu sampai mengganggu lalu lintas, apalagi jika ambulans kosong.
"Kalau kosong enggak boleh bunyikan sirine. Kecuali dalam proses penjemputan. Itu beda lagi nanti," katanya.
Dalam seminggu rata-rata dia bisa mengantar empat pasien. Sementara hari dan jamnya tidak menentu, apalagi jika kasus gawat darurat.
Hanya saja untuk kontrol rutin memang pada hari kerja saja, dari Senin hingga Jumat menyesuaikan layanan rumah sakit.
Dia bercerita terkadang untuk satu pasien kontrol memang bisa menghabiskan setengah hari sendiri jika harus menunggu proses perawatan selesai hingga perjalanan pulang.
Masyarakat yang ingin mengakses layanan ambulans, dia sebut biayanya berbeda tergantung pengelola.
Ada yang memang benar-benar gratis, ada yang hanya perlu mengganti biaya bensin, dan ada pula yang hanya membayar jasa sopir saja.
"Untuk sopir sendiri memang sering ada pelatihan kadang dari dinas perhubungan atau kepolisian. Rutin itu," ujarnya.
Budi bercerita, antar-para sopir sudah ada grup untuk saling koordinasi. Ketika nanti ada panggilan, maka pasien akan dijemput oleh sopir yang lokasinya paling dekat.
Koordinasi semacam ini penting agar tidak ada saling tubrukan saat jadwal penjemputan.
"Jadi enggak harus sampai perjalanan jauh, karena risiko juga di perjalanan. Cari yang terdekat," katanya.
Dia bercerita fasilitas di dalam ambulans berbeda-beda, tergantung fungsinya. Untuk ambulans pasien ada perlengkapan pertolongan pertama meliputi oksigen, tandu, masker, hingga kaus tangan.
Berbeda dengan ambulans jenazah yang biasanya memiliki stiker putih, di dalamnya berupa keranda dan perlengkapan pemakaman saja. (del/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja