JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta kembali mengeluarkan peringatan dini bencana kekeringan. Menyusul adanya potensi hilangnya hujan untuk periode tiga bulan ke depan.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan pengamatannya, curah hujan periode Agustus hingga Oktober bisa berada di angka nol.
Kondisi itu disebabkan fenomena El Nino kategori moderat-kuat yang terjadi hingga Desember.
Baca Juga: Pekan Kedua Latihan, Fisik Pemain PSS Sleman Disebut Pelatih Pieter Huistra Bagus
Reni menyebut, aktivitas El Nino berpotensi menambah durasi musim kemarau. Musim kemarau diprediksi baru berakhir pada minggu pertama atau kedua November.
“Kondisi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (22/7/2026).
Ia mengingatkan, semakin panjang musim kemarau juga meningkatkan potensi bencana kekeringan. Terutama pada wilayah rawan. Oleh karena itu, upaya mitigasi perlu disiapkan pemerintah daerah maupun masyarakat.
Upaya yang dapat dilakukan, di antaranya dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen. Kemudian juga melakukan pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien.
“Kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih perlu diwaspadai,” jelasnya.
Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyatakan, telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Seperti dengan mengintensifkan operasional tim reaksi cepat selama 24 jam penuh.
Baca Juga: Dinsos Bantul Perkuat Perlindungan Anak dari Eksploitasi Jalanan, Simak Strategi Yang Dilakukan
Menurutnya, musim kemarau yang lebih panjang tahun ini dapat meningkatkan risiko kebakaran. Sebab kondisi vegetasi akan mengering dan mudah terbakar jika terpicu percikan api.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita