JOGJA - Predikat Jogja sebagai kota sepeda "terusik". Hal ini buntut pelarangan sepeda masuk ke Jalan Malioboro dalam gelaran Jogja Last Friday Ride (JLFR). Alasannya bikin macet lalu lintas. Pertanyaan pun muncul, masih layakkah Jogja menyandang sebagai kota sepeda?
Julukan Jogja sebagai kota sepeda pun luntur. Apalagi setelah munculnya polemik pelarangan sepeda masuk ke Jalan Malioboro dalam gelaran JLFR itu. Jauh sebelum itu, fasilitas bagi pesepeda sebenarnya memang sudah jarang diperhatikan.
Ruang tunggu bagi "kereta angin" di lampu merah tidak lagi ada peremajaan. Gerakan sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe (Sego Segawe) juga tidak lagi digelorakan.
Baca Juga: Gowes di Jogja; Antara Gengsi, Edukasi, dan Minimnya Budaya Pesepeda Kantoran
Herry Zudianto (HZ) memandang predikat kota sepeda sudah waktunya kembali diteguhkan. Sebab, Wali Kota Jogja periode 2001-2006 dan 2006-2011 itu menilai julukan kota sepeda di Jogja sudah melekat seperti predikat istimewa yang disandang DIJ.
Sebagai sosok yang mencetuskan gerakan Sego Segawe, HZ pun memiliki harapan agar fasilitas dan gerakan bersepeda bisa kembali menjadi perhatian. Sebab, sepeda saat ini bukan lagi hanya transportasi. Namun menjadi jawaban dari berbagai tantangan lingkungan. Seperti pemanasan global dan polusi.
Kemudian secara sosiologis, menurutnya, bersepeda juga menciptakan suasana keakraban yang lebih cair. Interaksi antarpesepeda dinilai lebih ramah dan minim provokasi.
Berbeda dengan pengguna sepeda motor yang kerap memicu persaingan negatif seperti kejahatan jalanan. Bahkan jika bisa dikembangkan lebih baik lagi, kegiatan bersepeda dapat menjadi potensi wisata bagi Kota Jogja.
Baca Juga: Tak Cukup Andalkan Destinasi, Sleman Bidik Event untuk Dongkrak Wisata
"Kalau kita bicara bahwa kita selalu mengagungkan sebagai kota pendidikan apalagi daerah istimewa, ya seharusnya kita justru bagaimana kebiasaan peradaban bersepeda ini terus bisa difasilitasi," ujar HZ kepada Radar Jogja, Kamis (9/7/2026).
Menurut HZ, pada masa kepemimpinannya sudah banyak hal yang diwariskan untuk meneguhkan Jogja sebagai kota sepeda. Selain Sego Segawe dan ruang tunggu sepeda di lampu merah, ada jalur khusus bagi pesepeda yang melewati jalan perkampungan.
Ia pun mengenang masa baktinya dulu. Di mana ia rutin bersepeda dari rumah ke kantor hingga tiga sampai empat kali seminggu. Ia mengaku kerap ikut dalam JLFR dan cair dengan para pesepeda dalam kegiatan tersebut.
Baca Juga: Pemkab Kebumen Fasilitasi Nobar Final Piala Dunia 2026 di Alun-Alun Pancasila
Ia berharap para pemangku kebijakan saat ini, seperti kepala daerah berani memulai kembali tradisi bersepeda. Minimal ke tempat yang jaraknya dekat. Misal dari Balai Kota Timoho ke kantor DPRD dalam menghadiri kegiatan rapat.
"Harapan saya sekarang ada tokoh-tokoh Jogja, mungkin Pak Wali Kota, Pak Wawali bisa kembali memberi keteladanan untuk bersepeda," tandas pria yang berlatar belakang pengusaha ini. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja