JOGJA - BMKG Yogyakarta mengingatkan masyarakat mewaspadai fenomena bediding yang berpotensi terasa lebih dingin seiring masuknya puncak musim kemarau pada Juli–Agustus 2026.
Suhu udara minimum di DIY diperkirakan berkisar 17–21 derajat Celsius akibat minimnya tutupan awan dan terbatasnya suplai uap air.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena bediding lumrah terjadi pada musim kemarau. Karena tutupan awan cenderung lebih sedikit dan membuat panas bumi cepat terhempas ke atmosfer.
Reni mengungkapkan, periode Juli hingga Agustus merupakan puncak musim kemarau. Sehingga fenomena bediding dimungkinkan dapat terjadi dengan periode yang lebih panjang serta suhu yang lebih dingin.
“Fluktuasi suhu udara minimum di DIY berpotensi 17 hingga 21 derajat Celsius,” ujar Reni dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Feriomex Hutagalung mengungkapkan, pada saat ini suhu muka laut terpantau lebih dingin dibandingkan kondisi normal. Berkisar antara 26 sampai dengan 28 derajat Celsius.
Baca Juga: Tak Hanya Khusus untuk Sepak Bola, Stadion Candradimuka Kebumen Bakal Miliki Trek Balap Motor
Kondisi tersebut menyebabkan suplai uap air ke DIY menjadi relatif terbatas. Sehingga kurang mendukung pembentukan awan hujan.
Pola angin di Pulau Jawa juga terpantau kering karena didominasi angin timuran. Selain suhu udara akan lebih dingin, kondisi tersebut juga membuat gelombang laut cukup berbahaya untuk aktivitas wisata karena dapat mencapai 2,5 meter.
“Wisatawan kami imbau tidak berenang atau beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai, serta mematuhi arahan petugas,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita