JOGJAKARTA masih menjadi magnet wisatawan. Tidak saja pelancong ingin menikmati keindangan alam dan ragam budaya, tapi juga event yang sering digelar di kota ini. Misalnya ARTJOG, Prambanan Jazz Festival, Jogjarockarta, Ngayogjazz, dan masih banyak event lain.
Di tengah fokus Pemkot Jogja meneguhkan posisi Jogja sebagai kota event, sejumlah catatan masih muncul dari warga luar daerah. Khususnya dalam hal transportasi publik.
Salah seorang penikmat event di Jogjakarta asal Bengkulu, Arif Hidayat mengatakan, Jogja sudah memiliki layanan akomodasi perhotelan yang sangat mumpuni. Namun untuk konektivitas menuju lokasi acara masih menyisakan catatan.
Masalah transportasi publik menjadi salah satu sektor utama yang mendesak untuk dibenahi. Ia menyebut terbatasnya jangkauan transportasi masal seperti bus Trans Jogja yang belum mampu menyentuh pelosok-pelosok desa wisata atau titik-titik strategis penyelenggaraan acara, membuat wisatawan seringkali kebingungan.
Sehingga memaksa wisatawan luar daerah bergantung pada opsi sewa kendaraan pribadi maupun layanan transportasi berbasis aplikasi. "Layanan seperti Trans Jogja aksesnya terbatas, tidak bisa melipir-melipir ke lokasi tertentu. Pilihan lainnya paling hanya ojek atau taksi online," ujar Arif kepada Radar Jogja melalui sambungan telepon, Jumat (17/7).
Ketergantungan pada transportasi online itu membawa kendala tersendiri bagi wisatawan. Lantaran fluktuasi tarif sering tidak konsisten. Harga perjalanan tidak jarang melonjak secara tidak terduga, terutama saat permintaan sedang tinggi-tingginya di masa puncak festival.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah bisa mengintegrasikan rute angkutan umum dengan kawasan-kawasan potensial event. Dengan akses transportasi publik yang terjangkau, konsisten dan mampu menjangkau berbagai sudut daerah, tidak menutup kemungkinan Jogjakarta bisa menjadi kota festival kelas dunia.
Arif mengungkapkan, dalam skala nasional, Jogjakarta sudah menjadi barometer penyelenggaraan event. Salah satu contoh keberhasilannya adalah festival musik tahunan, Ngayogjazz.
Menurutnya, ajang itu menjadi bukti nyata bagaimana musik jazz yang kerap diidentikkan dengan musik kalangan urban kelas atas bisa dilebur dengan kearifan lokal. Apalagi dengan pemilihan lokasi penyelenggaraan di pedesaan atau daerah pinggiran.
"Bagi kita yang di luar daerah, Jogja ini menjadi barometer dan acuan. Kadang kami di Bengkulu berpikir, kenapa Jogja bisa mengelolanya dengan sangat baik, sedangkan kita belum bisa?" tuturnya.
Sementara itu, salah seorang warga Kota Jogja Bayu Prastowo memandang penyelenggaraan event bagi warga lokal sudah cukup bagus. Bahkan ada keuntungan tersendiri dengan banyaknya penyelenggaraan event berskala internasional. Misalnya, Jogjarockarta.
Bayu menyebut, pemilihan Jogja sebagai lokasi event internasional membuat dirinya tidak perlu menyiapkan biaya akomodasi. Meski demikian, ia memberi catatan agar pelaksanaan event di Jogjakarta bisa turut mendongkrak perekonomian masyarakat.
"Sebagai penikmat saya tentu senang jika banyak event di Jogja, namun harapannya itu juga berdampak pada ekonomi warga lokal. Jangan sampai kita hanya jadi penonton," ungkap warga Kemantren Ngampilan ini. (inu/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja