Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

A Decade: A Deeper Understanding, Perayaan 10 Tahun Kolaborasi Budaya DIY dan Melbourne Symphony Orchestra Didukung Danais

Fahmi Fahriza • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:37 WIB
Caption: Suasana Artistic Collaboration Concert: A Decade: A Deeper Understanding, di Auditorium Universitas Sanata Dharma. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Caption: Suasana Artistic Collaboration Concert: A Decade: A Deeper Understanding, di Auditorium Universitas Sanata Dharma. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

JOGJA - Suasana khidmat nan sakral menyelimuti Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Kamis (16/7) malam. Sejak sekitar pukul 17.30 WIB, tamu undangan mulai berdatangan mengenakan pakaian formal untuk menyaksikan Artistic Collaboration Concert: A Decade: A Deeper Understanding.

Agenda tersebut merupakan puncak perayaan satu dekade kemitraan budaya antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) yang didukung melalui Dana Keistimewaan (Danais) DIY.

Pada pukul 19.00 WIB, konser dimulai. Sajian musik orkestra yang berpadu dengan seni wayang menghadirkan suasana sakral sekaligus hangat. Para penonton tampak larut menikmati setiap penampilan. Tepuk tangan bergemuruh berkali-kali memenuhi ruangan sebagai bentuk apresiasi terhadap para musisi dan seniman yang tampil di atas panggung.

Baca Juga: Ekosistem Becak Listrik di Jogja Terus Diperluas, Menkeu Purbaya dan Gubernur HB X Mencoba Langsung di Alun-Alun Selatan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, kolaborasi wayang dan orkestra menjadi simbol bagaimana dua tradisi budaya dapat saling berdialog tanpa kehilangan identitas masing-masing. Menurutnya, seni memiliki peran penting dalam membangun ruang perjumpaan lintas budaya.

"Ini esensi peradaban sesungguhnya, tentang keberagaman yang bukan memaksakan hegemoni, tapi merayakan perbedaan dengan harmoni. Kita harus belajar mencintai satu sama lain, atau kita semua akan lenyap," ujarnya.

Ia menambahkan, wayang yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003 bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga tuntunan yang mengandung filsafat kehidupan.

 

Baca Juga: Anggarkan Rp 5,4 Miliar Buat Sport Center, Stadion Candradimuka Kebumen Bakal Dibuat Standar FIFA

"Melalui perjumpaannya dengan orkestra, kedua warisan budaya itu menghadirkan pesan perdamaian yang diharapkan terus bergema di masa mendatang," harapnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan, konser tersebut merupakan bagian dari kerja sama yang telah berlangsung selama sepuluh tahun.

"Kolaborasi tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tapi juga wadah pengembangan talenta melalui berbagai program seperti Youth Music Camp, Art Management Workshop, konser kolaborasi, program magang, hingga lokakarya komposer muda," ulasnya.

Menurut Dian, tema A Decade: A Deeper Understanding dipilih untuk menggambarkan semakin eratnya hubungan budaya yang terjalin antara kedua pihak.

"Kami ingin para musisi muda tidak hanya berkembang secara teknis, tapi juga menemukan makna yang lebih dalam dari laku seni sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik," katanya.

Ia menambahkan, konser tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian Bulan Warisan Budaya DIY yang berlangsung selama Juli hingga September. Berbagai agenda budaya akan digelar untuk merayakan sekaligus memperkenalkan warisan budaya DIY yang telah mendapat pengakuan UNESCO, mulai dari Festival Dalang Anak dan Remaja DIY, Yogyakarta Gamelan Festival, Street Art Malioboro Festival, hingga Jogja World Heritage Festival.

Baca Juga: INACRAFT Festival 2026 Digelar di Jogja, Jadi Panggung UMKM Kerajinan Tembus Pasar Global

Sementara itu, Direktur Eksekutif Melbourne Symphony Orchestra Richard Wigley mengatakan, kemitraan yang terjalin selama satu dekade berawal dari keyakinan bahwa musik merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang budaya. Dari fondasi tersebut lahir kerja sama yang terus berkembang melalui pengembangan musisi, komposer, konduktor, manajer seni, hingga institusi kebudayaan.

"Kemitraan yang paling kuat adalah kemitraan ketika semua pihak terus belajar. Hubungan ini memperkaya Melbourne Symphony Orchestra sebagaimana juga memperkaya sahabat-sahabat kami di Yogyakarta," ujarnya.

Richard menilai salah satu pencapaian paling membanggakan adalah munculnya para alumni program yang kini kembali berkontribusi sebagai musisi profesional, administrator seni, hingga pemimpin kreatif. Tahun ini, kolaborasi juga menghadirkan karya baru berjudul Dharma, hasil kolaborasi komposer Indonesia Vishnu Satyagraha dan komposer Australia Dr. Thomas Green.

Baca Juga: Seniman Jessica Soekidi Angkat Relasi Leluhur, Ketahanan Pangan, dan Generasi Masa Depan Lewat Instalasi Umbi "The Disco of Roots"

 

Penuturan lain juga datang dari Chief Operating Officer (COO) Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo. Ia mengatakan, konser tersebut menjadi puncak perayaan sepuluh tahun kemitraan MSO dan Dinas Kebudayaan DIY.

"Sebanyak 25 peserta Youth Music Camp terpilih dari hampir 80 pendaftar tampil bersama lima musisi Melbourne Symphony Orchestra dalam konser," paparnya.

Selain membawakan berbagai karya komposer dunia, konser juga menghadirkan world premiere karya Dharma yang dipadukan dengan pertunjukan wayang oleh dalang muda Fani Rickyansyah. Sejumlah alumni program MSO, seperti Raden Dwiyatama Darmasakti, Yosef Yudha Prasetya, dan Shelia Sanjaya, turut mengambil peran dalam penyelenggaraan konser.

"Tema ini menunjukkan bagaimana kolaborasi memungkinkan kita saling memahami budaya dengan lebih mendalam dan menginspirasi setiap individu menjadi manusia yang lebih baik melalui seni," kata Suzanne. (iza)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Danais orkestra Melbourne Symphony Orchestra wayang Universitas Sanata Dharma