Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada! Musim Kemarau, Pencemaran Udara di Kota Jogja Diprediksi Meningkat

Iwan Nurwanto • Rabu, 15 Juli 2026 | 19:15 WIB
PANCAROBA: Seorang wisatawan menggunakan payung untuk melindungi diri dari terik matahari saat melintas di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Jogja Minggu (12/4). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
PANCAROBA: Seorang wisatawan menggunakan payung untuk melindungi diri dari terik matahari saat melintas di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Jogja Minggu (12/4). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mewanti-wanti potensi peningkatan pencemaran udara. Pasalnya, di musim kemarau seperti sekarang partikel debu halus atau PM.25 cenderung mengalami peningkatan signifikan.

Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup DLH Kota Jogja Intan Dewani mengatakan, peningkatan pencemaran udara berkaitan dengan kondisi udara yang kering dan panas.

Sehingga memungkinkan partikel debu halus mudah berterbangan dan terhirup manusia.

Terlebih, setiap musim kemarau parameter PM.25 bisa menyentuh di angka 60. Sementara pada musim penghujan cenderung selalu di bawah 50.

Baca Juga: Satpol PP Bakal Rutinkan Operasi Yustisi Pelanggaran KTR di Malioboro, Sasaran Utama Pelaku Ekonomi Lokal

“Pastinya, ketika musim partikel debu halus akan berterbangan. Kalau musim hujan kan dia luruh oleh air hujan,” ujar Intan saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Rabu(15/7/2026).

Intan membeberkan, peningkatan partikel debu halus dapat meningkatkan ancaman gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Diharapkan masyarakat melakukan langkah pencegahan dengan menggunakan masker.

Adapun partikel debu halus PM.25 biasanya muncul dari berbagai aktivitas pencemaran udara. Seperti asap kendaraan bermotor, hasil pembakaran industri, hingga aktivitas pembakaran sampah.

“Tiap kemarau memang cenderung ada potensi penyakit pernapasan,” bebernya.

Baca Juga: Pantau MPLS di Cilacap, Wagub Taj Yasin Ajak Siswa Rancang Rencana Masa Depan

Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyebut, pada musim kemarau juga dapat menyebabkan perubahan suhu signifikan.

Misal pada siang hari suhu terasa sangat panas, lalu di malam hari berubah menjadi sangat dingin atau bediding.

Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Suhu udara terpanas pada siang hari dapat mencapai kisaran 34 derajat Celcius. Sementara pada malam hari suhu terdingin bisa mencapai 17 derajat Celcius.

Baca Juga: DPR RI Puji Kinerja Kementan, Wamentan Sudaryono: Anggaran Harus Berdampak untuk Petani

Iswari menyebut, suhu udara panas dan kering pada siang hari dapat memicu masalah kesehatan. Seperti batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, serta menurunkan daya tahan tubuh.

Kemudian juga dapat  memicu dehidrasi hingga heat stroke. Di luar masalah kesehatan, ada potensi bencana kebakaran lahan akibat vegetasi mengering.

“Kami mengingatkan warga untuk menyikapi fenomena bediding dengan menerapkan pola hidup sehat dan tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan,” pesannya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
partikel debu halus PM.25 ispa pencemaran udara musim kemarau