JOGJA - Malioboro tetap menjadi magnet utama pariwisata DIY. Ikon wisata tersebut tidak hanya menyedot kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong penyebaran pelancong ke berbagai destinasi di kabupaten dan kota lain.
Dampaknya, tingkat kunjungan ke desa wisata, objek wisata alam, hingga pelaku UMKM ikut terdongkrak selama masa libur sekolah.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima selama periode libur sekolah, peningkatan kunjungan tidak hanya terjadi di kawasan Malioboro, tetapi juga merembet ke berbagai destinasi di daerah.
"Malioboro tetap menjadi magnet utama. Dari laporan yang masuk, desa-desa wisata juga mengalami peningkatan kunjungan, terutama wisata keluarga. Penyebaran wisatawan ke berbagai daerah berlangsung sangat baik, bahkan yang paling signifikan terlihat di Gunungkidul," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Gangster di Kebumen Lempar Bom Molotov dan Jarah Paket, Empat Pemuda Diringkus Polisi
Menurut Imam, pola perjalanan wisatawan menunjukkan Malioboro masih menjadi titik awal maupun titik akhir perjalanan selama berlibur di Jogjakarta. Banyak wisatawan yang lebih dulu mengunjungi Malioboro sebelum melanjutkan perjalanan ke objek wisata di kabupaten lain.
Sebaliknya, tidak sedikit pula yang baru singgah ke Malioboro sebelum kembali ke daerah asal.
"Misalnya wisatawan datang ke Jogja, mereka mampir dulu ke Malioboro, setelah itu baru menuju Gunungkidul atau destinasi lain. Ada juga yang sebaliknya, selesai berwisata di kabupaten lain kemudian pulangnya mampir ke Malioboro untuk menikmati suasana sekaligus berbelanja. Pola seperti itu menjadi indikasi bahwa Malioboro masih menjadi daya tarik utama pariwisata di DIY," jelasnya.
Imam menilai tingginya mobilitas wisatawan tersebut turut memberikan efek berganda terhadap sektor ekonomi masyarakat. Tidak hanya destinasi wisata yang memperoleh manfaat, tetapi juga pelaku usaha kuliner, penginapan, transportasi, hingga UMKM.
"Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih lesu, sektor pariwisata bisa menjadi penyelamat perputaran ekonomi warga," katanya.
Senada, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Ellya Shari menyebut Malioboro memiliki posisi strategis dalam pola perjalanan wisatawan. Kawasan tersebut kerap menjadi destinasi terakhir sebelum wisatawan meninggalkan Jogjakarta.
"Malioboro sering menjadi destinasi akhir sebelum wisatawan meninggalkan DIY setelah mengunjungi objek wisata di kabupaten maupun kota. Di kawasan ini mereka biasanya membeli suvenir dan oleh-oleh untuk dibawa pulang," imbuhnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita