JOGJA - Rekam jejak panjang di birokrasi dan pengalaman mengelola sektor pendidikan menjadi modal Budi Santosa Asrori resmi menduduki jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Rabu (8/7). Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyebut, senioritas serta pengalaman Budi menjadi pertimbangan penting dalam penetapan sekda definitif tersebut.
Secara khusus, Hasto menggarisbawahi modal berharga yang dimiliki Budi saat menjabat di Disdikpora Kota Jogja. Menurutnya, Budi punya bekal pengalaman dalam hal mengelola tenaga guru yang hampir separuh dari seluruh aparatur sipil negara (ASN) di Pemkot Jogja.
Menjawab pertanyaan mengenai tugas dan tantangan ke depan, Hasto berpesan agar pemegang jabatan sekda bisa mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama yang monoton. Dia menaruh ekspektasi tinggi pada sosok Budi dapat menjadi pengasuh bagi ASN tanpa menciptakan pembatas atau jarak dengan bawahannya.
“Saya selalu katakan, kalau jadi pejabat itu harus hands-on. Jangan non-playing captain. Hanya bergaya seperti kapten, terus tidak ikut menendang bola, cuma mengatur-atur saja,” pesan Hasto.
Dilantik di Graha Pandawa Balai Kota Jogja Rabu (8/7), Budi berhasil menggugurkan dua kandidat lain. Yakni Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Jogja Ignatius Trihastono dam Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jogja Octo Noor Arafat. Budi yang sebelumnya menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja ini pun resmi menggantikan Aman Yuriadijaya yang pensiun pada awal tahun 2026.
Jika melihat usianya yang saat ini menginjak 55 tahun, kemungkinan Budi akan mengemban jabatan sekda selama lima tahun sebelum memasuki masa pensiun. Budi mengisi jabatan sekda setelah melalui proses panjang seleksi pada April 2026 lalu. Melewati tahap verifikasi berkas, seleksi administrasi, seleksi kompetensi manajerial dan sosiokultural, uji gagasan tertulis, uji gagasan lisan, hingga menunggu keputusan dari wali kota dan gubernur.
Setelah dilantik, Sekda Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengaku akan fokus mengawal target rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Dia juga menyoroti pentingnya reformasi birokrasi dan penguatan tata kelola pemerintahan untuk mewujudkan pelayanan publik optimal.
Terkait dengan penataan kawasan sumbu filosofi yang menjadi prioritas saat ini, Budi menyatakan kesiapannya untuk mempelajari pemetaan masalah terlebih dahulu. Guna merumuskan langkah kolaboratif yang tepat bersama Pemprov DIY.
Sementara ketika ditanya mengenai langkah taktis atau rencana khusus pascapelantikan. Dia memilih bersikap suportif dan menegaskan komitmennya mengawal visi kepala daerah. "Saya nderek (ikut) Pak Wali," kelakarnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita