JOGJA - Sensus ekonomi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku usaha.
Utamanya terkait dengan potensi kenaikan pajak setelah data pendapatan mereka tercatat.
Masyarakat pun mempertanyakan kerahasiaan data, khawatir justru nantinya bisa jadi "senjata" dalam pengenaan pajak.
Salah seorang pengusaha kerajinan perak di Kemantren Kotagede, Kota Jogja, Umi Nurhasanah mengaku cemas apabila ada petugas yang datang di tempat usahanya.
Baca Juga: BPS DIY Jamin Kerahasiaan Data Warga, Gali Informasi sesuai Kebutuhan Statistik
Apalagi, jika hal yang ditanyakan berkaitan dengan pendapatan.
Menurutnya, pertanyaan yang berkaitan dengan omzet merupakan hal yang sangat sensitif bagi pelaku usaha.
Belum lagi soal pencatatan data lain seperti jumlah aset hingga detail pendapatan bersih.
Meski belum ada petugas sensus ekonomi yang mendatanginya, Umi mengaku khawatir apabila nantinya data-data detail itu diketahui petugas.
Terlebih jika berdampak pada pajak usahanya yang naik. “Waswas saja karena sekarang apa-apa pajak,” ujar Umi kepada Radar Jogja, Minggu (5/7/2026).
Kendati begitu, pemilik usaha Umi Silver ini tetap menerima petugas sensus yang melakukan pendataan.
Namun kemungkinan besar dia agak pilih-pilih untuk membeberkan data yang menurutnya sensitif.
Umi mengungkapkan, usahanya bergerak di bidang usaha kerajinan gelang, cincin, dan liontin.
Usahanya berdiri sejak tahun 2000.Namun dalam beberapa waktu terakhir usahanya kurang baik-baik saja.
Faktor geopolitik global seperti perang membuat pasar ekspor kerajinan perak lesu.
Bahkan pada tahun ini dia terpaksa mengurangi jumlah karyawan.
"Sehingga mungkin sedikit terbuka (kepada petugas sensus), yang sekiranya saya tidak yakin mungkin, tidak saya jawab," ungkapnya.
Terpisah, pemilik Trajumas Java Coffee Agustinus Sulistyo mengaku telah menerima sensus ekonomi pada Juni lalu.
Sensus yang diterimanya berkaitan dengan usaha penjualan kopi yang dikelolanya.
Tentu pertanyaan pendapatan, tabungan, hingga kendala dalam usaha dipertanyakan dalam sensus.
Baca Juga: Dirut PSIM Jogja Yuliana Tasno Keluhkan Pendapatan Tiket Musim Lalu yang Jauh dari Kata Ideal
"Pertanyaan tidak jauh dari usaha. Ada juga pertanyaan terkait pendapatan," ucap pria yang akrab disapa Tyo ini, Jumat (3/7/2026).
Dia mengaku, petugas sensus merupakan sosok yang dikenal. Lantaran petugas sensus merupakan warga di kalurahannya.
Sensus yang dialami menunjukkan pengambilan data dilakukan secara door to door.
Petugas datang ke rumah atau tempat usaha untuk melontarkan beragam pertanyaan.
Petugas berbekal gadget untuk mengisi jawaban dari narasumber sensus.
Menurutnya, beberapa pertanyaan sensus tergolong unik. Selain pertanyaan jumlah penghasilan, ada juga pertanyaan jumlah emas yang disimpan.
Kendati begitu, ia tetap terbuka dalam menjawab pertanyaan petugas sensus.
Tyo justru mendukung kegiatan sensus. Lantaran, sensus menjadi bekal dalam penentuan kebijakan di tingkat pusat.
"Kalau ada yang menolak akibat khawatir dengan pajak, mungkin masuk akal. Tapi kalau saya pilih terbuka," ungkapnya.
Tyo menjelaskan, masalah pajak tak menjadi kekhawatirannya. Pasalnya, usahanya sudah banyak dikenal.
Baca Juga: PSIM Jogja Bidik Dua Pemain Lokal; Ahmad Agung dan Indra Arya Perceka Masuk Radar Perburuan
Sehingga ia cukup terbuka dalam hal penghasilan dan usahanya.
Kekhawatirannya justru tertuju pada kerahsiaan data hasil sensus.
Memang data sensus langsung terkirim dalam sistem online. Akan tetapi ada kekhawatiran kebocoran data.
Sorotannya tertuju pada metode sensus yang masih dalam kriteria campuran online dan offline.
Metode offline terletak dalam proses pengambilan data.
Petugas yang melakukan wawancara memang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan.
Akan tetapi potensi kebocoran masih bisa terjadi pada gadget alat sensus yang digunakan petugas. (inu/gas/laz)
Editor : Herpri Kartun