JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja memprediksi potensi inflasi cukup besar pada periode bulan ini. Hal ini seiring dengan mulai masuknya tahun ajaran baru.
Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, berdasarkan tren tahunan komoditas yang berkaitan pendidikan biasanya akan mengalami kenaikan harga. Karena permintaannya cenderung meningkat.
“Misalnya terkait dengan pendidikan, biaya sekolah, biaya buku, lalu seragam,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Rabu (1/7/2026).
Meski ada potensi kenaikan harga di sektor pendidikan, secara umum inflasi di Kota Jogja tergolong aman. Inflasi secara tahunan atau year-on-year berada di angka 3,18 persen.
Masih di bawah 3,5 persen atau angka maksimal yang ditentukan pemerintah pusat.
Sementara kondisi pada Juni lalu, eks Kepala BPS Gunungkidul itu mengungkapkan, angkanya menyentuh 0,46 persen dibandingkan April. Penyebab inflasi didominasi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan penyesuaian harga jasa transportasi.
Joko menyatakan, inflasi yang dipicu oleh BBM nonsubsidi dan sektor transportasi itu baru terjadi tahun ini. Pada bulan-bulan sebelumnya, inflasi cenderung didominasi oleh komoditas bahan pangan.
“Perubahan ini mungkin karena juga musim panen, sehingga stoknya melimpah,” bebernya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi memang sangat dirasakan oleh masyarakat. Salah satu pengemudi ojek online yang beroperasi di Kota Jogja, Febri Roman mengaku pengeluaran hariannya semakin membengkak akibat hak tersebut.
Baca Juga: Shayne Pattynama Dirumorkan ke PSS Sleman? Manajemen: Ditunggu Saja!
Sebelum harga Pertamax melonjak di kisaran Rp 12.300 per liter, Febri sehari-hari mengeluarkan uang untuk bahan bakar Pertamax sebesar Rp 50 ribu. Namun setelah mengalami kenaikan menjadi Rp 16.250 per liter dia harus merogoh kocek hingga Rp 75 ribu untuk sehari.
“Kenaikan Pertamax jelas sangat merugikan, apalagi bagi kami (ojol) yang setiap hari di jalanan,” ungkap warga Kemantren Ngampilan ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita