JOGJA - Di tengah berkurangnya lahan pertanian secara signifikan saban tahun, petani dinilai memiliki peran penting. Salah satunya dalam mendukung ketahanan pangan di DIY. Kontribusi para petani cukup besar. “Tanpa petani, kita akan kesulitan untuk mewujudkannya,” ingat Ketua DPRD DIY Nuryadi sesaat sebelum menyerahkan penghargaan bagi pemenang lomba Peningkatan dan Produktivitas Sawah Irigasi Ramah Lingkungan (Si Ramli) 2026 di Ruang Wijaya Kusuma Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Selasa (30/6).
Selain lahan menyusut, tantangan lainnya berupa minimnya minat generasi muda menjadi petani. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dan sinergi berbagai pihak memecahkan masalah tersebut. Meski diakui, hal itu bukan pekerjaan mudah. “Perlu adanya terobosan,” katanya.
Baca Juga: Tiga Pasangan Nikah Bareng di Atas Moge, Fortais Sebut Simbol Ketangguhan Rumah Tangga
Dia mengapresiasi terobosan Pemprov DIY dengan program Lumbung Mataraman. Terobosan itu dinilai positif mendukung pertanian berkelanjutan. Ini juga akan didorong melalui keputusan politik Komisi B dan Badan Anggaran DPRD DIY.
Dalam acara itu, ketua dewan menyerahkan penghargaan bagi juara I lomba Si Ramli yang diraih Kelompok Tani (KT) Ngudi Mulyo, Jirak, Bokoharjo, Prambanan, Sleman dan juara II KT Sidodadi Sejahtera Karangmojo, Karangmojo, Gunungkidul. Sedangkan juara III diraih KT Sedyo Makmur Miri, Sriharjo, Imogiri, Bantul. Adapun juara harapan dipegang KT Margo Basuki Saman, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo.
Prestasi yang diraih KT Ngudi Mulyo itu tak lepas dari sejumlah inovasi. Di antaranya, dalam mengatasi hama penggerek batang bati dengan memanfaatkan galon air mineral. Di samping itu efisiensi air irigasi, pengelolaan tanah berkelanjutan, peningkatan produktivitas dan kapasitas kelembagaan petani. Dengan menjadi juara pertama berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 10 juta.
Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan Si Ramli dimulai dengan komitmen pengelolaan irigasi yang efisien. Penggunaan sarana pertanian tepat guna, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang aman bagi masyarakat. Dengan menerapkan Si Ramli diharapkan bisa meningkatan produktivitas pertanian yang berkelanjutan.
Aris juga mengingatkan filosofi dalam Keistimewaan DIY Hamemayu Hayuning Bawana. Senantiasa menjaga keselarasan alam. Dengan begitu akan menjauhkan dari praktik mengeksploitasi alam. “Tercipta ekosistem dan harmonisasi yang baik,” ucap mantan Paniradya Pati Kaistimewan DIY ini.
Dia juga mengulas soal program Lumbung Mataraman. Dalam pelaksanaan, Lumbung Mataraman menjadi bagian dari upaya nyata mewujudkan ketahanan pangan di masyarakat. Itu sejalan dengan falsafah nandur apa sing isa dipangan, mangan apa sing isa ditandur. Makanya menanam apa yang ditanam dan makan apa yang bisa ditanam. “Ditambah lagi tur isa didol (bisa dijual, Red),” imbuh Aris. Dikatakan, lomba Si Ramli ini juga menjadi sarana pembelajaran dan penyebarluasan praktik-praktik pertanian berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Dia melihat antusiasme peserta mengikuti lomba Si Ramli 2026 menunjukkan tingginya kesadaran petani terhadap pentingnya pengelolaan pertanian ramah lingkungan. Lebih lanjut, Aris mengungkapkan, pentingnya menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi pangan dan kelestarian lingkungan. Dia kembali menyitir slogan tuwuh ngrembaka atau tumbuh dan berkembang dalam pembangunan pertanian serta ketahanan pangan di DIY. (kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita