JOGJA - Di rumah keluarga Komang Suta Wijaya dan Arti Purbani Kusumasari, seni bukan sekadar aktivitas di waktu luang. Kanvas, cat, dan diskusi tentang karya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari lingkungan itulah anak-anak mereka tumbuh dekat dan mencintai dunia seni.
Tahun ini, kebahagiaan besar datang menghampiri keluarga yang berdomisili di Salatiga itu. Si anak sulung, Komang Manik Sushma Swarnalata, 12, berhasil meloloskan karya berjudul Legenda yang Merayap di Atas Luka Dunia. Sementara adiknya, Ketut Manika Kirana Gayatri, 9, lolos dengan dua karya bertajuk Timy Ku dan Aku Pohon pada ARTJOG Kids 2026.
Sebagai ibu, Arti mengatakan, ketertarikan anak-anaknya terhadap seni tumbuh secara alami karena sejak kecil mereka terbiasa melihat ayahnya berkarya. Suaminya merupakan tattoo artist sekaligus pelukis yang hingga kini masih aktif berpameran.
"Anak-anak tertarik ke dunia seni karena setiap hari lihat ayahnya berkarya. Ayahnya tattoo artist dan pelukis lulusan ISI Jogja yang sampai sekarang masih aktif lukis dan ikut pameran," ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (29/6).
Berangkat dari lingkungan tersebut, Arti dan suaminya rutin memantau berbagai informasi open call seni melalui media sosial. Sebelum menembus ARTJOG Kids, kedua anak mereka juga telah mengikuti sejumlah ajang bergengsi, mulai dari Kids Biennale 2025, masuk 10 besar finalis Mr.DIY Art Competition x IndoArtNow 2025, hingga berpameran dalam Bebas 3 di Vinautism Gallery Surabaya.
Baginya, ARTJOG menjadi salah satu pameran yang paling dinanti setiap tahun, sehingga keluarga mereka tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. "Open call ARTJOG memang yang paling kami tunggu. Begitu informasinya keluar, kami langsung mengajak anak-anak menyiapkan karya," katanya.
Meski sama-sama hidup di lingkungan seni, Arti menegaskan dirinya dan sang suami tidak pernah mengarahkan teknik maupun isi karya anak-anak. Mereka hanya mengenalkan tema dan batas waktu pengumpulan, sedangkan proses kreatif sepenuhnya diserahkan kepada sang anak.
Baca Juga: Dinkop UKM DIY Jemput Bola Sosialisasikan Pentingnya Keterlibatan di Sensus Ekonomi 2026
"Kami tidak pernah mendikte. Paling hanya ngobrol soal konsepnya. Selebihnya mereka bebas mengeksplorasi imajinasinya sendiri," tuturnya.
Menurut Arti, tantangan terbesar justru datang dari hal sederhana yang lumrah dialami anak-anak, yakni menjaga suasana hati agar tetap bersemangat menyelesaikan karya hingga tuntas. Karena itu, peran orang tua lebih banyak memastikan proses berkarya tetap menyenangkan daripada mengejar hasil.
Saat mengikuti seleksi ARTJOG Kids pun, Arti dan suaminya berusaha membangun mental anak sejak awal. Mereka mengingatkan bahwa lolos bukan tujuan utama, sehingga anak-anak tidak kecewa apabila hasilnya belum sesuai harapan.
"Bapaknya juga ikut submit karya tapi belum lolos. Jadi kami selalu bilang ke anak-anak, yang penting tetap senang berkarya, jangan hanya fokus ingin menang atau lolos," ungkapnya.
Pendekatan itu justru membuahkan hasil. Saat pengumuman keluar, kedua anak mereka dinyatakan lolos sekaligus. Sang kakak meloloskan satu karya, sedangkan sang adik berhasil menampilkan dua karya.
"Wah, bisa bayangin saya gulung-gulung di lantai karena kegirangan? Terutama saya sebagai mama, senangnya luar biasa. Combo banget rasa senang sama bangganya," ujarnya.
Bagi Arti, pengalaman itu menjadi penyemangat agar kedua anaknya terus konsisten berkarya. Ia berharap mereka tetap berani menuangkan imajinasi dan tidak kehilangan kejujuran khas anak-anak dalam setiap karya yang diciptakan.
"Harapan kami sederhana, semoga mereka terus konsisten berkarya, makin berani berimajinasi, dan tetap jujur sebagai anak-anak lewat karya-karyanya," harapnya.
Sementara itu, Komang Manik mengaku karya yang membawanya lolos berangkat dari kegemarannya terhadap sosok naga. Baginya, naga menjadi simbol yang tepat untuk menggambarkan konsep tentang waktu, sekaligus menjadi objek yang paling sering ia gambar.
"Gambarku itu tentang waktu, tapi aku gambarkan dengan naga karena aku memang suka banget sama naga," katanya.
Dalam proses pengerjaan, tantangan terbesar muncul ketika menggarap bagian-bagian kecil hingga tahap penyelesaian akhir yang membutuhkan ketelitian lebih. "Yang paling susah pas detailing, bagian kecil-kecil sama finishing," ujarnya.
Kerja keras itu akhirnya terbayar saat mengetahui karyanya terpilih tampil di ARTJOG Kids 2026 ini. Momen itu bahkan membuatnya tak kuasa menahan air mata. Kini, siswa berusia 12 tahun itu tengah menyiapkan karya baru untuk kembali mengikuti kompetisi seni berikutnya.
"Pas tahu aku lolos, aku happy banget sampai nangis. Sekarang aku lagi bikin karya baru lagi. Doakan aku lolos ya," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita