Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peringati Harganas ke-33, Menteri Wihaji Sebut Beban Pengasuhan Jangan Hanya di Pundak Ibu, Ayah Wajib Hadir

Heru Pratomo • Senin, 29 Juni 2026 | 17:17 WIB
Puncak Harganas di Jogja, Menteri Wihaji Ingatkan Bahaya Fenomena Fatherless Country
Puncak Harganas di Jogja, Menteri Wihaji Ingatkan Bahaya Fenomena Fatherless Country

 

 

JOGJA - Isu fatherless atau kondisi psikologis dan sosial di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan peran figur ayah jadi perhatian dalam puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Berkali-kali Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji mengingatkan bahaya fenomena fatherless.

"Pada momentum ini, saya ingin berpesan khusus kepada para ayah di seluruh Indonesia. Kehadiran fisik dan kedekatan emosional Anda adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak,” kata Wihaji saat upacara peringatan Harganas ke-33 yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) di kompleks Benteng Vredeburg Yogyakarta, Senin (29/6/2026).

Menurut dia, Perbaikan kualitas SDM ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di pundak ibu. Wihaji mengingatkan agar jangan membiarkan anak-anak tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis. 

Baca Juga: Stok Nasional Tembus 5,1 Juta Ton, Mentan Amran Tawarkan Ekspor 10 Ribu Ton Beras ke Singapura

Menurutnya kekosongan itu sering digantikan oleh gawai yang dapat mempengaruhi pola pikir anak. Dia mengajak para orang tua khususnya ayah berdialog dengan anak-anak di rumah dan membatasi waktu penggunaan gawai dan mengarahkan kepada hal-hal yang produktif.

“Kelalaian pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial. Tawuran antarpelajar, perundungan, pergaulan bebas, hingga cengkraman narkoba adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malafungsi,” terangnya.

Benteng pertahanan terbaik, kata dia, adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Dia juga mengajak untuk memperbaharui paradigma  keluarga bukan sekedar unit terkecil masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional.

Baca Juga: Tak Kuat Menanjak, Truk Towing Muatan Alat Berat Tabrak Teras Masjid di Kulon Progo

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memberikan apresiasi terkait tema peringatan Harganas Ayah Wajib Hadir. Hasto berpendapat tema itu mengingatkan sesuatu yang biasanya tidak diperhatikan oleh keluarga, yaitu bagaimana peran ayah bisa hadir dalam hal mengasuh, melindungi keluarga.

Dicontohkan gerakan ayah mengambil raport ternyata memberikan makna dan kesan tersendiri bagi dirinya. Pemkot Yogyakarta menerapkan kehadiran orang tua atau ayah ibu dalam pengasuhan dengan memastikan anaknya berada di rumah  di malam hari terkait pemberlakuan jam malam anak.

“Ada jam malam untuk (anak) keluarga. Dalam hal ini kadang-kadang ayah, ibu itu belum tentu mengecek anaknya sudah pulang atau belum sampai pukul 22.00. Sebetulnya jangan hanya ibu saja sehingga kita menerapkannya orang tua ayah ibu harus mengecek anaknya,” pesannya.

Editor : Heru Pratomo
#Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) #fatherless #wihaji #Harganas #Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo