JOGJA - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 masih menyisakan ratusan kursi kosong pada jenjang sekolah dasar (SD).
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) memberi kelonggaran bagi sekolah minim siswa supaya tetap membuka pendaftaran siswa baru.
Berdasarkan hasil pelaksanaan SPMB dari tanggal 22 hingga 26 Juni 2026, tingkat keterisian SD di Kota Jogja mencapai 80 persen atau sekitar 2.900 siswa.
Angka itu menyisakan 700-750 kursi lowong dari total kapasitas 3.600 kursi SD.
Baca Juga: Baru Pulih, Tapi Cedera Lagi, Winger Spanyol Nico Williams: Salah Satu Hari Terburuk
Kepala Dindikpora Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, sisa ratusan kursi itu memang membuat sejumlah sekolah kekurangan siswa.
Namun diklaim tidak ada sekolah yang sampai kosong atau nihil siswa baru. "Semua ada isinya,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Minggu (28/6).
Meski belum bisa membeberkan secara rinci daftar SD yang kekurangan siswa, Budi menegaskan sekolah yang kuotanya tersisa tetap bisa menerima siswa baru. Walaupun SPMB sudah berakhir.
Menurutnya, hal itu sejalan komitmen pemerintah dalam memenuhi hak pendidikan wajib bagi masyarakat. Bahkan siswa dari luar kota juga tidak dibatasi untuk masuk ke sekolah yang masih kekurangan siswa.
"Tetep dibuka sampai kapan pun. Bagi sekolah yang belum penuh,” jelas Budi.
Mantan sekretaris Dindikpora Kota Jogja itu menyatakan, mendongkrak minat pendaftar SD negeri memang masih menjadi tantangan.
Lantaran orang tua di perkotaan cenderung memilih sekolah swasta dengan harapan anaknya memiliki bekal religius yang kuat.
Meski begitu, Budi menegaskan target utama pihaknya saat ini bukan sekadar kuantitas atau hanya mengejar target keterisian saja. Melainkan kualitas.
Sehingga, meski ada sekolah yang kekurangan siswa, guru tetap memprioritaskan pembelajaran yang bermutu. "Yang kami pentingkan itu bagaimana menciptakan pembelajaran yang bagus di semua sekolah," tegasnya.
Menghadapi fenomena sekolah yang masih kekurangan siswa, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan belum akan mengambil kebijakan penggabungan sekolah (regrouping).
Pemkot masih memberi sekolah kesempatan untuk berbenah agar siswa semakin tertarik mendaftar ke SD negeri.
Menurut Hasto, daya tarik utama sekolah swasta saat ini terletak pada penguatan karakter dan pendidikan agama.
Sehingga dia menuntut agar sekolah negeri melakukan reformasi manajemen sekolah dan peningkatan kualitas pengajaran agama.
"Kepala sekolah SD harus proaktif membenahi SD-nya, proaktif mencari siswa, promosi bahwa SD-nya itu bagus," pesan Hasto. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun