JOGJA - Sejumlah wilayah di DIY berpotensi mengalami hujan lokal meski tengah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas bibit siklon tropis 92W yang terpantau di Samudera Pasifik utara Papua.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, kelembaban udara menyentuh kisaran 50-90 persen dengan ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer.
Aktivitas tersebut memungkinkan adanya potensi hujan bersifat lokal di sejumlah wilayah. Seperti di Sleman bagian utara, Kulon Progo bagian utara dan Gunungkidul bagian utara.
“Untuk potensi hujan masuk kategori ringan,” ujar Feri, Minggu (21/6/2026).
Meskipun hujan masuk kategori ringan, hujan yang muncul di tengah musim kemarau patut diwaspadai. Lantaran dapat menyebabkan kondisi cuaca yang berubah signifikan.
Di samping itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap cuaca panas pada siang hari. Karena dapat membuat cairan tubuh berkurang signifikan.
“Cukupi kebutuhan cairan tubuh serta batasi aktivitas luar ruangan yang tidak diperlukan,” pesannya.
Baca Juga: Rahasia Bakpia Kurnia Sari Bertahan sejak 1962 hingga Jadi Oleh-Oleh Favorit Yogyakarta
Secara terpisah, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Iva Kusdyarini menyebut, dehidrasi menjadi ancaman yang harus diwaspadai saat musim kemarau. Sebab cairan tubuh akan cepat berkurang saat suhu panas.
Meskipun demikian, Iva mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik karena kondisi di Kota Jogja belum memiliki ancaman panas berlebih pemicu heat stroke. Sebab rata-rata suhu udara di Jogjakarta saat musim kemarau masih di bawah 40 derajat Celcius
“Untuk heat stroke saat ini belum perlu diwaspadai karena tidak sedang mengalami cuaca panas yang ekstrim,” beber Iva. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita