JOGJA - Penanganan masalah kesehatan jiwa masih menjadi perhatian bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Upaya kolaborasi dengan berbagai pihak pun dilakukan.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, berkembangnya teknologi dan perubahan gaya hidup memang menjadi salah faktor pemicu gangguan kesehatan jiwa. Contohnya seperti kecenderungan anak-anak yang saat ini terpaku dalam permainan gadget.
“Tanpa disadari, kondisi itu bisa melemahkan ketahanan mental mereka. Sama seperti otot yang tidak pernah dilatih akan mengalami atrofi, mental yang tidak pernah ditempa juga akan menjadi rapuh ketika menghadapi tekanan,” ujar Hasto di sela penandatanganan kerjasama Program TITIAN (Peningkatan Pengembangan Profesi Psikologi Klinis KKNI Level 7) di Balai Kota Jogja Senin (15/6).
Baca Juga: Meski BBM Naik, DPUPKP Kota Jogja Pastikan Proyek Perbaikan Jalan Tetap Lancar
Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kota Jogja memang ada peningkatan kasus gangguan kesehatan jiwa. Pada tahun 2024 penderita gangguan jiwa mencapai 3.433 orang. Kemudian satu tahun setelahnya naik menjadi 3.498 penderita.
Mayoritas penderita pada tahun ini merupakan gangguan jiwa berat dengan jumlah 1.116 orang. Kemudian disusul penderita depresi sebanyak 1.070 orang, lalu penderita gangguan cemas 979 orang, serta campuran dari penderita gangguan cemas dan depresi 433 orang.
Mantan Bupati Kulon Progo itu menegaskan, penanganan masalah kesehatan jiwa sudah menjadi prioritas pemerintah. Lantaran pembangunan sumber daya manusia tidak hanya pada aspek fisik. Tapi juga kesehatan mental.
Baca Juga: Tradisi Nawu Sendang Jadi Simbol Syukur Masyarakat Kaliberot Atas Sumber Air di Sumur Gedhe
Pemkot pun sudah menyiapkan program strategis terkait penanganan kesehatan jiwa. Mulai dari upaya deteksi dini di sekolah dan puskesmas hingga penguatan sistem rujukan ke rumah sakit.
Di lingkungan sekolah guru bimbingan konseling memiliki peran penting dalam mengidentifikasi siswa yang berisiko mengalami gangguan mental. Supaya dapat dilakukan penanganan lebih awal.
Hasto juga mendorong lahirnya Rumah Sehat Jiwa yang berbasis komunitas. Program tersebut dapat menjadi ruang pendampingan bagi penyintas gangguan kesehatan mental setelah menjalani perawatan.
“Rumah Sehat Jiwa berbasis komunitas bisa menjadi solusi untuk mendukung proses pemulihan dan reintegrasi sosial bagi mereka yang membutuhkan," bebernya.
Ketua Kolegium Psikologi Klinis Indonesia Indria Laksmi Gamayanti menegaskan bahwa Jogjakarta merupakan salah satu daerah yang paling progresif dalam pengembangan psikologi klinis. Salah satu indikatornya adalah kehadiran psikolog klinis di tiap puskesmas.
Indria menyatakan, pihaknya mendapat mandat dari Kementerian Kesehatan untuk menyelenggarakan program kerja sama di DIY. Langkah tersebut untuk meningkatkan kompetensi psikolog umum agar memenuhi standar pelayanan psikologi klinis yang dibutuhkan.
“Program TITIAN ini menjadi bagian dari upaya tersebut,” katanya. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita