JOGJA - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dinilai tiba-tiba. Namun, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyebut, adanya penyesuaian harga dilakukan setelah melalui evaluasi berkala dan koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator.
"Dan menjadi upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM bagi masyarakat terus berjalan optimal," sebutnya Rabu (10/6).
Baca Juga: Ramai Warganet Keluhkan Denda PBG Capai Rp 7 Juta, DPUPKP Sleman Berikan Penjelasan Begini
Menurutnya, penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian. Meski demikian, dia memastikan pasokan BBM di DIJ tetap aman. "Kami pastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green aman dan tersedia di jaringan SPBU Pertamina," jelasnya.
Di sisi lain, Pertamina juga mencatat ketahanan stok BBM saat ini berada jauh di atas kebutuhan konsumsi normal. Stok Pertalite mencapai sekitar 12 kali konsumsi harian normal, Biosolar 20 kali lipat, Pertamax 18 kali lipat, dan Pertamina Dex sekitar 18 kali lipat konsumsi normal.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan menuturkan, mayoritas konsumsi BBM masyarakat masih berasal dari produk yang tidak mengalami perubahan harga.
"Tercatat hingga Juni 2026, mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa bagian tengah masih didominasi produk subsidi," ulasnya.
Taufiq menambahkan, pada segmen gasoline, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax 25,9 persen. Sementara Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen.
"Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen," jelasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita